Posts

Berburu Kisah Stalin Setiap Pagi

Image
  Hai teman-teman, apa kabar? Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan ya, agar bisa tetap beraktivitas seperti biasa 😊😊😊 Kali ini aku mau bercerita tentang bacaan baruku. Bukan buku sih, sebenarnya sebuah cerbung (?) di Kompasiana. Link ini tidak sengaja kutemukan di salah satu postingan teman di twitter, yang saat itu langsung kubaca karena sedang gabut 😂 Kadang ketidaksengajaan itu mempertemukan kita dengan hal-hal yang menyenangkan ya! Eciee...💗 Cerbung yang kubaca ini berkisah tentang Stalin. Iya, Joseph Stalin yang tokoh Uni Soviet itu.  Karena aku membacanya mulai di episode ke-7, tadinya kupikir ini sebuah fiksi yang kebetulan saja nama tokohnya Stalin. Karena penasaran, aku putar balik dan mencari episode satu-nya. Ternyata oh ternyata, ini beneran kisah Stalin yang berdasar fakta dan sejarah, lho. Menariknya, cerbung ini ditulis dengan gaya kocak dan ringan. Bahasanya juga kekinian dan membumi sekali. Membaca ini jadi tidak terasa membaca sebuah biografi sejara

Tombo Kangen 😊

Image
Sejak pindah ke Tangerang, banyak makanan Sidoarjo/Surabaya yang kurindukan. Beberapa masih bisa ditemui sih dan rasanya setara dengan yang kukenang, tapi ada makanan yang benar-benar tidak eksis di sini. Untuk mengobati kerinduanku, aku akan mencoba mengkompilasinya (eciee) biar menjadi pengingat di masa depan, dan menghargai apa yang pernah kumiliki sebelumnya (uhuk uhuk).   Tempe menjes Sebagai pecinta tempe garis keras, tidak makan tempe dalam 3 hari saja sudah bisa membuat nafsu makanku berkurang. Untuk genre tempe yang biasa sih masih mudah didapatkan. Nah, khusus genre menjes ini yang susah. Buat yang belum tahu, tempe menjes adalah tempe yang terbuat dari ampas kedelai. Mungkin ada yang pernah mendengar tempe gembus di daerah Jawa Tengah, yah 11-12 lah.  Sebenarnya ada dua jenis tempe menjes, yang bertekstur kasar dan berwarna lebih gelap, yang kedua bertekstur halus dan berwarna lebih terang. Yang aku bahas di sini adalah yang teksturnya halus. Biasanya digoreng dengan

[REVIEW BUKU] Goodbye, Things by Fumio Sasaki

Image
  Hai hai hai... Apa kabar teman-teman semua? Meskipun berlibur di rumah saja, yang penting kita semua selalu sehat dan masih berkumpul bersama keluarga ya 😊😊😊 Sebagai penutup akhir tahun, aku mau pamer hahaha. Akhirnya aku bisa menyelesaikan bukunya Fumio Sasaki yang berjudul Goodbye, Things . Karena bukunya pinjam di Ipusnas, 3 hari nggak selesai ditarik sama sistem, mau pinjam lagi harus antri lagi, akhirnya total bisa menyelesaikan buku ini ada sebulan kali 😋😋😋 Eniwei, aku sangat tertarik dengan gaya hidup minimalis. Sempat kubahas juga beberapa kali soal ini di blog. Mencoba menyortir barang, menyederhanakan koleksi, mengubah cara belanja, dan cara menyimpan barang. Tentu saja kalau mengaku-aku sudah jadi minimalist belum berani sih, tapi pengen banget jadi salah satunya. Baca juga: Minimalism, Are you in? Seperti dibahas di bukunya, Fumio mengatakan bahwa tidak ada standar harus seperti apa menjadi minimalist itu. Semua dikembalikan ke diri kita masing-masing, ke ke

2020, One of My Best Year

Image
    Seperti biasa, memasuki bulan Desember artinya memasuki masa-masa kegalauan. Menjelang akhir tahun membuatku mengingat apa saja yang sudah aku kerjakan tahun ini. Tentunya corona bisa jadi alasan utama kenapa banyak rencana di tahun ini tertunda, bahkan dibatalkan. Banyak alasan untuk mengeluh di tahun ini. Banyak sekali. Tapi melihat kembali daftar resolusi yang kubuat di akhir tahun 2019 kemarin, ya ampun, aku sungguh tersenyum membacanya. Banyak sekai hal-hal baru yang kudapatkan di tahun ini, yang tidak ada di dalam daftar resolusiku. Meski banyak sekali yang bisa dikeluhkan, sesungguhnya lebih banyak lagi yang bisa kusyukuri 😊😊😊   Lebih dekat dengan orang tua Karena corona hampir semua aktivitas di luar rumah berkurang. Tadinya aku kerja dari pagi sampai sore, baru bertemu dengan orang tua di malam hari. Belum lagi di akhir minggu ada acara traveling bersama kawan. Praktis beraktivitas bersama orang tua minim sekali. Semenjak “everything from home”, kami semu

Pillow Talk

Image
“Ibu, boleh ya? Ijinkan aku kali ini saja. Tidak akan ada kali lain. Ini kesempatanku satu-satunya.” Ibu masih diam tak bergeming. Entah beliau sengaja tidak mau mendengar, atau sengaja sibuk dengan pikirannya. Ibu memang selalu seperti itu. Jarang melarangku, namun ketika beliau tidak suka, akan ditunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. Tapi tetap, tidak ada kata jangan. Tapi aku tahu dari raut wajahnya. Bagaimana tidak, seumur hidupku aku mengenal dia. “Aku janji, ini permintaan terakhirku. Ini akan jadi pengalaman yang hebat buat aku, Bu! Tidak semua orang memiliki keberuntungan seperti ini.” Beliau tahu benar sifatku. Aku tidak bisa dilarang. Kalau keinginanku sudah bulat, aku harus mendapatkannya. Harus. Tidak bisa tidak. Tapi beliau juga tahu, aku belum berani menentangnya. Aku percaya restu Ibu nomor satu. Dan saat ini, aku sangat membutuhkan kata ya darinya. “Aku akan tunjukkan pada Ibu. Aku akan membuat Ibu bangga kali ini. Ibu percaya deh sama aku. Boleh ya