Bu Tejo bukan Antagonis, Yu Ning bukan Protagonis, Dian bukan Korban. Mereka adalah Kita.

sumber: mojok.co


Di film pendek berjudul Tilik yang sedang viral itu, banyak penonton yang dengan gampang beranggapan bahwa Bu Tejo adalah tokoh antagonis, Dian adalah korban, dan tentu saja Yu Ning sebagai tokoh protagonisnya.

Di sepanjang film, jelas diceritakan betapa Bu Tejo sangat tidak simpati dengan tokoh yang bernama Dian. Entah bagaimana bentuknya, namun berdasarkan betapa sengitnya perdebatan antara Bu Tejo dan Yu Ning, penonton jadi dibuat penasaran. Siapa sih sebenarnya Dian ini, bagaimana orangnya, seberbahaya apa penampakannya?

Dari percakapan yang terdengar di atas truk itu, Bu Tejo bisa dianggap punya masalah pribadi dengan Dian. Apa pun berita tentang Dian, bisa menjadi sebuah kesalahan di mata Bu Tejo. Tapi Bu Tejo berkilah bahwa ini bukan asal ngomong. Bu Tejo juga bilang bahwa dia hanya jaga-jaga kalau ternyata Dian ini perempuan nggak bener. Jangan sampai menggoda para suami di desa mereka.

Disambut juga oleh cuitan si Gotrek, yang langsung dijewer oleh istrinya. Terbukti, para bapak-bapak juga suka menggoda Dian.

Hmmm, pokoknya Dian ini nggak ada baiknya, deh!

Di sudut yang berbeda, ada Yu Ning yang sedari awal membela Dian, berusaha memberikan tangkisan terhadap pernyataan-pernyataan Bu Tejo. Pembelaan Yu Ning terasa lebih lemah, karena Bu Tejo sudah menguasai audiens. Ini juga yang semakin menguatkan posisi Yu Ning sebagai tokoh protagonis, tokoh yang teraniaya kedua, setelah Dian.

Di akhir film, penonton dibuat kaget dengan plot twist besutan sutradara Wahyu Agung Prasetyo. Ternyata oh ternyata.

Sekarang mari kita perhatikan lebih dalam.

Apakah Bu Tejo sungguh seorang yang jahat? Kejahatan dia cuma satu, membicarakan Dian seburuk-buruknya, seolah Dian ini hina dina tidak punya sisi positif sama sekali. Sepertinya kejadian yang dia ceritakan itu betulan terjadi. Cerita tambahan dari Yu Sam dan Bu Tri juga menandakan bahwa ada orang lain yang mengetahuinya. Apakah yang dibicarakan semuanya salah? Memang tidak benar semuanya sih, tapi ada kebenaran di dalamnya.

Bukankah kita semua pernah menjadi Bu Tejo?

Yang kedua, Yu Ning.

Apakah beliau betul-betul seorang yang baik? Kebetulan saja Dian ini saudara jauhnya, makanya dia membela mati-matian sampai berdebat sengit dengan Bu Tejo. Semisal dia tidak punya hubungan darah dengan Dian, apakah dia akan melakukan hal yang sama? Bisa saja lho, Yu Ning akan lebih semangat menggibhah karena tidak punya konflik kepentingan. Ya, siapa tahu?

Toh ternyata, dia juga tidak benar-benar mengenal Dian luar dalam. Apa yang dibelanya, belum tentu benar kan.

Bukankah kita semua pernah menjadi Yu Ning?

Yang ketiga, Dian.

Dian hanya tampil sebentar di akhir film. Tenyata orangnya biasa saja. Tidak seprovokatif yang digambarkan Bu Tejo. Tidak seberbahaya yang ditakutkan ibu-ibu, sehingga bisa menggoda para suami di desa mereka. Penampilannya sederhana, bajunya juga masih sopan. Nggak sevulgar yang kubayangkan sebelumnya.  

Serius, sesungguhnya aku kecewa melihat profil Dian. Sukses diprovokasi Bu Tejo, wkwkwk.

Tapi Dian adalah sosok kita semua. Kita sering disalahpahami karena pilihan-pilihan kita berbeda dengan orang kebanyakan. Kita dianggap “berbahaya” karena berbeda.

Bekerja dari rumah dan hanya mantengin laptop, katanya masih pengangguran.

Belum menikah di usia 30-an, katanya terlalu pilih-pilih.

Huft, bukankah kita semua pernah menjadi Dian?

Film ini terasa dekat, karena kita ada di dalam sana. Sebal dan gemas setengah mati sama Bu Tejo. Tidak sedikit penonton yang mbathin, “Hhhh, pengen tak tapok lambene!”.

Tapi ngekel juga ketika dia berkomentar tentang Yu Nah yang mual dan muntah.

Ketawa ngakak saat blio turun dari truk arep nyokot pak polisi.

Juga ketika dia menjadi solutip. wkwkwk

Jan, tenanan, Bu Tejo bukan antagonis.

Aku padamu, Bu. Mwah.

Sssttt. Satu lagi. Film ini kuanggap membuktikan bahwa gosip itu biasanya memang benar adanya. Tidak ada asap, kalau tidak ada api. Pasti ada sedikit kebenaran yang terkandung di dalam gosip yang kita dengar. 

Percayalah. 


Baca juga: It's Okay to Not Be Okay, Toxic Parents itu Memang Ada, Tapi...

Comments

  1. Setuju nih.. Pas pertama kali nonton ini film, yaa senyum-senyum sendiri gitu. Karena sedikit banyaknya memang realita kehidupan buibu di kampung. hihi..

    Dan satu hal lagi, kalo nggak ada makhluk sejenis Bu Tejo, nggak akan ada yang berani buka suara, yang lantang menyuarakan hak-haknya, yang berani mengungkap sepenampakan dan sependengarannya, wkwk..

    Aku juga padamu Bu Tejo, muach!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahh bener ya Kak. Sosok Bu Tejo ini memang dibutuhkan untuk keseimbangan semesta. Biar ada yang vokal dan menyuarakan yang tak tersuarakan, hihihi.

      Delete
  2. Sosok Bu Tejo adalah buah Simalakama. Simalakama adalah kita. Kalo omongannya benar jadi Ghibah. Kalo omongannya salah jadi Fitnah. Dua2 nya dosa.... Yang sering kita lakukan hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul juga ya kang, kalo benar jadi gosip, kalo salah jadi fitnah.πŸ˜‚

      Delete
    2. Yah begitulah Mas Dodo. Kadang emang suka gak sengaja terlibat dalam per-ghibah-an. Tak patut laaa πŸ˜…πŸ˜…

      Delete
    3. Haduh Mas Agus mengingatkan lagi soal kebajikan, hahaha ampun dehhh

      Delete
  3. Saya belum nonton filmnya mbak, tapi lihat review nya sih katanya bagus banget, Bu Tejo katanya cerminan masyarakat kita.

    Mau ke YouTube ah, semoga kuota cukup untuk nonton film Tilik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh jadi penasaran nih, pendapat Mas Agus setelah menonton apa ya hahaha

      Delete
  4. Film ini isinya gosip/ omongan ibu2 doang ya? Ada yang lebih lagi nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ditonton dulu saja Mas, biar seru diskusinya :)

      Delete
  5. Setuju, di film Tilik tidak ada protagonis atau antagonis, Tilik adalah kita.
    Kalau aku sih berkesimpulan kenapa banyak orang-orang yang sebel sama Bu Tejo, ya karena Bu Tejo punya sesuatu yang menyinggung kehidupan mereka, secara tidak langsung.

    Waktu aku menonton biasa aja, malah terhibur sekali dengan nilai masyarakat dan budaya kita yang pada dasarnya suka gotong royong. Bayangin, 1 orang sakit, sekampung jengukin. Kurang solid apa? Terlepas dari scene ngegosipin orang. Orang-orang kita tetap saja mau diajak gotong royong walau keadaannya seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, film ini justru menangkap hal2 remeh di sekitar kita, yg beneran ada! Jeli sekali sih tim produksinya.

      Soal guyonan selangkangan, itu kan hobi ibu2 dan bapak2 banget 🀣 lalu soal klakson utk merunduk di atas truk, menarik bgt ketika sebuah aksi sederhana menjadi sebuah kode yg disepakati bersama.

      Film ini keren banget dah. Menghibur sekaligus mengedukasi soal kebiasaan tilik di Bantul dsk.

      Kalau ada film2 dengan kearifan lokal lagi seru kali yaa. Dengan menonton film kita bisa lebih mengenal bangsa kita sendiri.

      Delete
  6. Iyes. Setuju banget ini.. film pendek tapi pesan moral nya dalam..dikemas dengan santai dan menghiburπŸ‘πŸ‘
    Yang jelas,, Logatnya itu, asli natural πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren yah! Bangga banget deh skrg udh makin banyak film2 Indonesia yang makin bagus2.

      Delete

Post a Comment

Halo, terima kasih sudah membaca. Tinggalkan komentar ya, biar aku bisa balas BW 😊

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?

Kecombrang, Pemilik Aroma Segar Dan Rasa Khas Dari Hutan Indonesia