Merayakan Setahun Mengganti Kebiasaan Makan (^0^)

 

gambar hanya pemanis, bukan berarti aku makan bunga sekarang :D

Bulan Oktober ini tepat setahun aku berkomitmen mengganti gaya hidup. Mengganti kebiasaan makan dan lebih rajin berolahraga. 

Aku memulainya setahun yang lalu. Tanpa ekspektasi apa-apa, hanya memutuskan saja. Sebenarnya sudah sejak lama ingin hidup lebih sehat, dan sudah banyak sekali teori yang aku baca, tapi NOL. Tidak ada yang kulakukan jadi tidak ada perubahan yang kualami.

Karena sudah setahun dan telah merasakan manfaatnya, aku ingin menuliskan cerita ini di blog untuk mengingat perjuangan aku setahun ini. Tidak ada yang tidak mungkin. Ternyata aku bisa melewati setahun ini. Andai setahun lalu aku tidak memulainya, hari ini ceritanya akan berbeda. Terharu 😭

 

Mengganti kebiasaan makan dan olahraga

Flashback ke bulan Oktober 2019 ketika semua ini dimulai ya.

Waktu itu aku membaca salah satu konten IG-nya dr. Zaidul Akbar. Aku lupa persisnya, tapi intinya adalah untuk hidup yang lebih sehat harus mengurangi konsumsi gula dan garam. Sebenarnya saat itu bukan pertama kali aku membaca perihal ini, malahan sudah sering mendengarnya. Tapi sebelumnya cuma sekadar lewat saja, tidak pernah benar-benar mempertanyakan asupan gula dan garamku dalam sehari.

Kali itu berbeda, aku jadi penasaran. Aku putuskan untuk mencari tahu, sebenarnya berapa sih konsumsi gula dan garam yang berlebihan itu?

Tidak sulit mencarinya karena banyak sekali artikelnya di internet. Tapi kemudian aku menyadari bahwa sebenarnya pertanyaan yang lebih penting adalah, berapa konsumsi gula dan garamku dalam sehari?

Nah, ini yang ngeri hehehe.

Sejujurnya aku merasa tidak berlebihan dalam mengkonsumsi gula. Aku tidak menyukai masakan atau makanan manis. Aku kurang suka cemilan manis. Aku hanya minum satu gelas teh hangat manis di pagi hari, sisanya ya minum air putih. Aku tidak minum kopi. Aku tidak suka minuman manis kekinian. Konsumsi gula lainnya paling cuma yang ditaburkan di dalam masakan. RASANYA sih masih aman πŸ˜€

Untuk konsumsi garam, aku sedikit khawatir karena lebih suka masakan atau makanan yang gurih, Tidak jarang aku ngemil yang asin-asin. Tapi tetap saja, aku merasa aman karena Ibuku mengidap tekanan darah tinggi, jadi semua masakan di rumah harus dikurangi garamnya. Aku merasa konsumsi garamku masih aman. Sekali lagi, RASANYA ya πŸ˜€

Satu lagi, aku merasa cukup minum air putih, Jadi semisal aku terlalu banyak konsumsi gula atau garam, otomatis akan “terbuang”, begitu pikirku percaya diri. Hahaha sotoy banget ya teori yang satu ini πŸ˜„

Setelah baca-baca lagi feed IG-nya dr Zaidul Akbar, aku jadi menemukan banyak hal. Ternyata banyak sekali sumber gula dan garam dalam makananku sehari-hari. Misalnya, nasi putih yang mengandung banyak gula. Aku makan nasi putih 3 kali sehari. Bisa dibayangkan berapa konsumsi gulaku dari nasi. Hiks πŸ˜’

Tepung-tepungan juga mengandung gula. Aku suka sekali makan gorengan. Hidupku hampa tanpa gorengan. Hampir tiap hari pasti ada gorengan di rumah. Kalau sedang nggak bikin, biasanya kami beli di luar. Level gorengannya sudah advance wkwkwk. Jadi gorengan ini menyumbang gula, garam (gurih), dan minyak. Iya iyaaa sudah tahu sih sebenarnya...

Tepung-tepungan yang lain yang kusukai yaitu per-mie-an. Aku suka sekali makan mie. Mulai dari mie telor, bihun, mie tiaw, kusuka semuanya. Oke, satu lagi yang harus dienyahkan 😒

Kemudian, aku juga perlu mengurangi makanan kemasan dan instan. Yang terbaik adalah makanan yang alami dari alam. Sayur dan buah? Gampang, aku suka. Gak ada masalah.

Makanan kemasan dan instan ini yang susah. Alamat ind*mie harus dilupakan! Kecap, saus botolan, sarden, kornet, selai, chitato yang gurih, dan masih banyak lagi. Mereka ini yang memiliki kategori pengawet dan permicinan. Satu lagi yang harus dicoret πŸ˜’

Belakangan baru kuketahui, ketika aku ke Indomar*t, tidak ada lagi makanan yang bisa kubeli, karena semuanya tidak alami dan instan wkwkwk.

Saat itu aku berpikir, kalau tidak dicoba dengan serius, aku tidak akan pernah tahu hasilnya. Selama ini sudah sering membaca soal makanan-makanan pantangan ini, tapi karena tidak pernah dicoba untuk diterapkan ya, badanku gini-gini aja.

Sakit sih nggak, tapi aku rasa sehat sekali juga nggak. Sering mengeluh migrain, saat haid pasti merasa nyeri, dan gampang capek. Terkadang aku juga mengalami susah tidur. Kalau yang ini mungkin faktor overthinking sih πŸ˜‚

Jadi saat itu kuputuskan, aku akan mencobanya dengan kemantapan hati. Demi hidup yang lebih sehat. Cie.

Satu hal yang pasti, aku orangnya nggak bisa lapar. Kalau lapar aku nggak bisa mikir lalu emosi jiwa wkwkwk. Jadi kalau diet yang tipenya mengurangi makanan, terus lapar dan lemas, aku sudah nyerah dari kapan tahun deh.

Dari bacaan-bacaan itu aku menyimpulkan bahwa aku tidak disuruh lapar. Aku hanya diminta memilih asupan makanan yang lebih sehat. Justru aku harus kenyang dengan makanan yang kumakan. Tapi pilihan makanannya yang akan berbeda. Yang lebih menyehatkan.

Jadi yang pertama kulakukan adalah:

  • Mengganti beras putih menjadi beras merah
  • Mengganti teh manis hangat di pagi hari menjadi jeniper (jeruk nipis peras) dengan madu atau wedang jahe dengan gula aren
  • Menghindari tepung-tepungan dan turunannya (mie, roti, bakso, cilok, gorengan)
  • Menghindari susu dan turunannya (keju, yoghurt)
  • Menghindari makanan kemasan dan instan
  • Mengurangi minyak (termasuk masakan bersantan)

Dari sini kusimpulkan, yang menjadi pantangan sebenarnya cuma jajanan aja, bukan makanan pokok. Aku masih bisa makan makanan yang normal. Semua protein hewani masih bisa kumakan. Sayuran dan buah tentu saja boleh dimakan. 

Cara masak masih boleh yang digoreng, tapi tidak setiap hari. Sebagai ganti menggoreng, protein hewani bisa dibuat soto atau sup tanpa minyak. Aku paling nggak bisa makan yang dikukus, hampa rasanya. Untuk sayuran kadang di masak bening atau tumis saja. So far, masih aman. Aku happy.

Sebulan pertama adalah yang terberat. Tapi karena aku selalu dalam keadaan kenyang, situasi masih bisa kukendalikan. Yang sering datang adalah keinginan untuk jajan, terutama yang gurih-gurih hahaha. Sebagai gantinya aku nyetok buah-buahan. Yang murah meriah, gampang didapat, dan aku harus suka. Seperti pepaya atau semangka, selalu ada sepanjang tahun. Pokoknya kalau perut terasa kenyang, situasi aman terkendali.

Agar tidak bosan, aku juga mencoba aneka pengganti karbohidrat yang lain seperti beras hitam dan beras jagung. Kadang juga makan singkong, labu kuning, atau kentang. Intinya mencoba banyak makanan pengganti, agar tidak bosan.

Meski kuakui, sungguh, aku sering merindukan nasi putih hahaha. Anehnya, ketika suatu kali aku cheating makan nasi putih, rasanya di mulut huwenak pol!, tapi di perut rasanya begah. Penuh banget rasanya, nggak enak. Jadi oke, aku putuskan nggak mau sering-sering makan nasi putih lagi.

Sekali waktu juga pingin makan bakso yang super pedas atau mie ayam. Karena sudah tak tertahankan, kusamperin lah warung kesayangan. Oke, rasanya sangat micin dan berlemak banget. Aku jadi sadar, ternyata selama ini memang kurang sehat jajanku.

Satu lagi yang selalu terbayang-bayang adalah gorengan hahaha. Kalau sudah kepingin banget, ya aku beli aja. Gpp, maksimal 2 biji aja buat mengobati kerinduan. 

((2 biji)) 

Maklum, levelnya tadi kan sudah advance πŸ˜‚

Intinya, kalau kepingin banget ya aku kasih kelonggaran. Makan semangkuk bakso nggak akan merusak diet. Nyemil gorengan 2 biji gak akan langsung sakit. Gak segampil itu. Nyesel sih iya setelahnya wkwkwk.

Di akhir tahun 2019, berat badanku turun 5 kg. Woohoo... senangnya. Jadi makin semangat deh. Aku jadi lebih rajin cari-cari resep baru yang sesuai pantanganku. Memang harus masak sendiri sih, biar lebih terkontrol. Apalagi karena corona, mengurangi jajan di luar.

Tapi masaknya juga gampang kok, karena tumis-tumisan atau rebus-rebusan. Nggak perlu lama-lama di dapur. Aku juga senang karena menemukan cara yang enak untuk lebih sehat. Aku semakin jarang flu, migrain jarang kambuh, dan haid tidak lagi terlalu nyeri. Aku happy.

Untuk olahraganya, sejak awal tahun 2019 memang sudah punya program olahraga setiap hari minimal 15 menit. Sempat juga kuceritakan di blog soal ini. Agar tidak bosan, aku selang-seling dengan aneka macam olahraga. Jalan kaki, zumba, atau yoga, sesuai dengan mood hari itu. Yang penting ada kardio dan latihan pernafasan. Semuanya bisa dikerjakan di rumah.

Dari sini aku juga memahami bahwa, olahraga sekeras apapun kalau asupan makan tidak diatur, sama juga bohong. Hasilnya tidak akan maksimal untuk kesehatan. 

 

Baca juga: 5 Kanal Youtube Favoritku untuk Olahraga di Rumah


 

Hari ini, setahun kemudian...

Sampai hari ini aku masih menjalani kebiasaan makan yang baru. Banyak sekali penyesuaian-penyesuaian selama perjalanan setahun kemarin. Aku menemukan makanan-makanan baru yang kusukai, dan makanan-makanan lama yang ternyata tidak aku sukai lagi.

Aku makan dengan kesadaran. Mindfullness, bahasa kekiniannya 😎

Aku makan karena aku sedang lapar. Aku membutuhkannya. Bukan karena sekadar lapar mata.

Aku menemukan bahwa dari semua jenis pengganti beras putih yang sudah aku coba, yang paling kusukai adalah beras jagung. Biar nggak berasa jadi ayam petok-petok wkwkwk, saat masak kucampur dengan beras putih dengan perbandingan 1:3. Yes, aku kembali makan nasi putih, karena kombinasi dengan bahan lainnya aneh banget jadinya 😁

Aku menemukan bahwa aku sangat menyukai sayuran yang direbus. Yes, direbus saja tanpa garam. Mulai bayam, sawi, kangkung, gambas, kacang panjang, manisa, daun katuk, daun singkong, buncis, dan masih banyak lagi sayuran yang pernah kumakan dengan hanya direbus. No problemo. Tapi makannya harus bareng sambal mentah, kesukaanku.

Aku tidak lagi menyukai jajan di luar seperti dulu kala. Kebanyakan aku malah menyesal karena setelahnya sering merasa eneg dan kehausan – micin detected. Sesekali tentu saja masih kepingin karena nggak bisa bikin sendiri di rumah. Seringnya setelah jajan harus banyak minum air putih untuk menetralisir.

Hari ini, setahun kemudian, aku bisa bilang diriku jauh lebih sehat. Bulan September lalu, aku sempat cek darah dan hasilnya bagus sekali dibandingkan setahun yang lalu. Aku sudah lupa rasanya migrain, jarang banget kena flu, dan yang paling terasa adalah, nyeri saat haid berkurang, hanya sakit di hari pertama.

Ekstra bonusnya lagi, berat badanku turun 12 kg. Iya, kalau dirata-rata dalam sebulan turun 1 kg itu termasuk sehat kan ya? Dan baru kali ini lho, berat badanku bisa turun tanpa yoyo. Aku happy.

Aku juga jadi lebih memahami bahwa proses itu harus dinikmati. Ada hari-hari yang bikin bad mood, dan tentu saja pelarianku ke makanan hahaha. Tapi ya sudahlah nggak papa. Cheating sesekali gak akan merusak semua program. Aku jadi lebih selow.

Seperti hari ini, ketika mendung dan suasana jadi melow, pengen banget makan siomay kan hahaha #alasan. Gapapa, besok aku bisa kembali ke jalur yang benar lagi. Tenang...


***

Harapanku, dengan ditulis di blog ini, bisa jadi pengingat pribadi untuk terus konsisten. Biar bisa sehat dan tetap bugar di masa tua nanti, biar bisa jalan-jalan terussss...

Comments

  1. Artikelnya bikin semangat nih, hehe..
    Itu dibagian konsumsi keren banget sih konsistensinya, haha.. Semoga kebiasaan ini bisa terus tertanam sampai berkeluarga nanti ya Tik, hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi syukurlah kalau memberi semanagat Kak. Emang butuh suporter kok, aku bareng temenku juga selama program ini, jadi bisa saling mengingatkan :)
      iyaa, aku juga berharap bisa seterusnya konsisten karena sayang banget kalau nggak diteruskan. Badan lebih enak dan berasa lebih sehat aja. Semangat juga ya!

      Delete
  2. Kaaak kereenn banget bisa konsisten dan dapat bonus turun berat badan πŸ‘πŸ‘

    Aku pun sempet ganti nasi putih jadi nasi merah. Ketika makan nasi putih lagi emang berasa begah dan kenyang pol.

    Kalau sudah biasa makan menu yg sehat, ketika balik ke menu sebelumnya, pasti berasa ga enak.

    Semangat yaa kaak, semoga pola hidup sehatnya terus berlanjut 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa aneh banget rasanya bisa sampai males makan nasi putih hehehe gak pernah terbayang sebelumnya. Iya, takjubnya badan kita bisa menyesuaikan begitu ya, aku jadi menyesal nggak memulai lebih awal. Jadi kasihan sama badan aku, selama ini gak dikasih nutrisi yang seharusnya.

      Yes, semangat dong, harus bisa konsisten! :)

      Delete
  3. woooowww turun 12 kg? aduuuh kepengen, tapi bukan proses yang mudah kan ya, saya pernah mengubah pola makan juga dengan mengurangi gula garam dan makan yang serab direbus. say no to jajan. dan semua itu saya yakin berat dijalani di 3 bulan pertama. tapi setelahnya udah jadi kebiasaan memang kalo konsisten.

    selamat ya kak, aku jadi semangat nih buat kembali hidup sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Kak Eka!
      Iyaa gapapa, semua ada prosesnya kok. Dicari aja cara yang paling disukai. Aku merasa ketika kita masih hepi dan nggak terpaksa, jadinya berasa santai dan gak bikin stres hehehe

      Delete
  4. Hi Kak Tika! Apa kabar? Udah lama nggak lihat tulisan Kakak πŸ˜‚

    Anyway, Kak Tika keren sekali! Aku ucapkan selamat terlebih dahulu ya sebab bisa menjalani pola hidup sehat, plus bonusnya dapat penurunan berat badan. Keren keren 🀩
    Aku selalu salut sih sama orang-orang yang bisa benar-benar beralih ke clean eating karena bagiku masih susah untuk full menghindari makanan-makanan tsb, untuk nggak sama sekali makan tuh masih sulit buatku πŸ˜‚
    Tapi bersyukurnya, aku kalau dalam hal makanan masih dalam tahap wajar, bahkan mungkin termasuk kurang makan kayaknya 🀣

    Terima kasih atas sharingnya Kak Tika! 😍. You inspire me a lot! Aku jadi terinspirasi untuk clean eating tapi belum yakin untuk full beralih wkwkw #labil

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya Lia, aku emang udah lama mbolos ngeblog, sampai kangen juga menulis. Lalu lagi hepi dengan program ini, jadi cerita deh di blog :D

      Terima kasih atas supportnya Lia. Kalau Lia juga mau, semoga segera nemuin cara yang paling fun ya. Karena aku udah mengalami macem-macem pantangan yang bikin gak hepi dan akhirnya jadi stres hahaha (kebanyakan diet apa mikir sih?!)


      Delete
  5. Selamat mba Tika atas pencapaiannya πŸ₯³ salut karena bisa melawan keimpulsifan diri sendiri untuk jajan πŸ˜† hehehe.

    Saya juga sama seperti mba Tika, sudah mulai hidup lebih sehat dengan fokus pada apa yang dimakan. Sometimes cheating pasti ada, tapi nggak berlebihan seperti dulu apa saja dimakan. Hehehe. Terus nowadays saya sudah jarang makan nasi mba, seminggu mungkin hanya sekali, dan sebagai gantinya saya meningkatkan sayur, buah dan side dish hihihi ~

    Semoga kita bisa selalu sehat yah, agar dapat menjalani hidup dengan bahagia πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak Eno. Pengennya sih menua dengan sehat dan tetap bugar ya, jadi memang harus diinvestasikan dari sekarang :))
      Semangat buat kita yah!

      Delete
  6. Wow luar biasa bisa turun berat badan 12 kg setelah setahun. Kadang memang kalo disuruh diet dengan cara mengurangi makan bikin malas karena lapar dan akhirnya gampang marah. Ternyata solusinya ganti makanan yang mengandung gula dan garam dengan makanan yang lebih sehat, terutama sayur dan buah-buahan.πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. karna gak berasa diet yang laper itu Mas, jadi gak emosian hehehe
      Jadi ceritanya aku sudah menemukan cara yang menyenangkan untuk lebih sehat Mas. Cara yang sesuai sama aku, belum tentu sesuai sih sama orang lain :)

      Delete
  7. Mbaknya sudah tidur overthinking mikirin apaa yaak hahaah
    Btw keren banget nih mbak Tika. Menerapkan pola hidup sehat. Bisa turun 12kg pulaak. Aku jadi termotivasi, mau coba jadi lebih sehat. Heheeh
    Sebab, akhir akhir ini aku udah mulai sering n hobi banget jajan di luar. U know lah. Micin semuaa hahahaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe disclaimer dulu ya Mas Dodo, diet ini cocok buat saya, semoga juga cocok dengan yang lain :)
      Mikirin apa saat overthinking? Sudahlah Mas, gak usah ditanyain, nanti saya overthinking lagi...

      Delete
  8. Saya selalu konsumsi beras merah setiap hari tetapi jika jenuh ada variasinya juga, Jadi dalam sebulan bisa 2 kali dengan nasi putih selebihnya beras merah.😊😊

    Alhamdullilah bisa stabil menjaga berat badan...Tapi inti dari semuanya yaa tetap pola makan yang teratur..😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Satria. Saya juga merasa faktor terbesar berat badan stabil itu karena saya mengurangi makan nasi putih. Makan sebanyak apapun gak masalah. Tapi jangan banyak2 juga sih hahaha

      Delete
  9. Keren, Mbak. Bisa konsisten begitu. Hasillnya pun tampak nyata. Bikin semangat, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, terima kasih. Semoga bisa terus konsisten nih. Harus selalu ingat motivasi di awal :))

      Delete
  10. 12 kg lumayan juga kak. Nama dietnya apa ya. kalau dilihat banyak yang punya nama seperti clean eating, food combining, dsb. TFS.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ini diet ala2 saya mbak. Yang penting hepi judulnya :))

      Delete
  11. Kak Tikaa ya ampun keren banget bisa konsisten! Selamat yaa udah bisa hidup lebih sehat dan dapet bonus turun berat badan 1kg tiap bulan πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Memang yaa diet itu harus nemu sendiri cara yang tepat dan ga nyusahin diri kita sendiri. Karena cara yang cocok buat orang lain belum tentu cocok sama kita atau sebaliknya...

    Sharing yang bagus banget Kak Tikaa, semoga bisa menularkan gaya hidup sehat ke yang baca, terutama aku sendiri yang masih ga bisa jauh dari kopi huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa benerr... setelah melanglang buana memahami teori dan gagal saat praktik, akhirnya kutemukan cara yang cocok 🀠🀠🀠

      Kayaknya kuncinya mulai dr yang kita sukai kok. Dr situ kita ngukur sendiri mana yg bisa di tinggal mana yg tetap dimakan 😚😚

      Hihi, makasih yaaa buat supportnya. Semoga aku juga konsisten nih, biar pebih sehat lagi πŸ€—πŸ€—

      Delete
  12. Saluut dengan konsistensinya untuk tetap bertahan dengan gaya makanan sehat dan olah raga.
    Untuk mengurangi asin masih susah ni saya. Sukanya asin asin gurih. Kalau gula baru berusaha mengurangi. Mengurangi saja tapi.. Belum bisa lepas teh ginasthel- puanas manis kenthel . .Hehe
    Besok mau saya coba ah, yg wedang jahe pakai gula arennya.

    Sehat selaluuu ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, makasih supportnya :')

      waduh betul mbakk, itu camilan asin gurih selalu menghantui hahaha. Tapi semakin kesini semakin berasa gak seenak dulu sih, karena keasinan :D jadi pas kepingin ya makan juga, tapi gak betah banyak2 karena gak enak aja rasanya karena haus terus.

      iyaaa enak banget kok ternyata diganti gula aren. Secara estetik mungkin kurang cantik karena warnanya merah/gelap, tapi enak banget jadinya menurutku.
      Semoga menemukan komposisi yang enak yaa buat ramuan minumannya hihihi

      Delete
  13. Wah ini. Lebih termotivasi kalau baca tips dan tricknya dari yang sudah berhasil dan mempraktekan langsung. Semoga bisa juga memulai hidup yang lebih sehat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat bereksperimen ya! Salam hidup sehat! 🀠

      Delete
  14. Mba tikaaaa, aku jd makin semangat hidup sehat pas baca ini :D. Sejak pandemi jujurnya aku udh mulai mengubah pola makan. Tp blm maksimal. Tapi setidaknya aku usaha utk ga terlalu sering makan yg ga sehat. Indomie dkk aku kurangin 2 Minggu sekali. Makanan kaleng dan dagjng olahan blm tentu sebulan sekali nyetok. Kalo pgn aja, dan itupun aku ga mau nyetok banyak supaya ga tergoda.

    Tp memang santan aku msh susah hindari. Sebagai org Sumatra, aku terbiasa makan yg santan2. Apalagi kalo sdg mudik, mama pasti masakin semua yg enak2 dan itu santan :(.

    Eh kalo nasi merah aku justru LBH sukaaa mba :D. Pertamakali nyobain, aku lgs jd ga pengen nasi putih. Walopun terkadang masih makan nasi putih juga. Krn di rumah yg suka nasi merah cm aku. Seandainya semua kluarga doyan, aku ganti total nasi putih. Kalo makan nasi merah itu, ada sensasi kenyal2nya itu loh :D. Enak aja ngerasain. Dan rasa nasi merah khas.

    Aku blm prnh coba nasi jagung. Padahal kmrn pas ke solo, di salah satu warung soto ada yg jual nasi jagung seplastik gitu. Udh ragu mau beli, tp ga jadi Krn blm tau rasanya. Ntr aku ke solo LG mau beli aaaah :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk yuk semangat Mba Fanny!!! :D Tos lah mbak, aku juga besar di keluarga orang Sumatera, jadi sering kangen makanan santan2. Tapi belakangan ini ibuku mau kuprovokasi untuk mengganti santan dengan susu. Serius enak lho, kalau nggak dikasih tahu, aku nggak bakalan tahu juga kalau sudah diganti susu hahaha. Tapi memang sudah jarang banget sih. Sebulan sekali juga nggak ada.

      Biasanya kalau sudah pingin banget, mendingan memilih untuk beli biar bisa terbatas porsinya, misalnya beli nasi bungkus Padang. Itupun sudah gak bisa makan sebungkus sendirian lagi seperti dulu, terlalu mengenyangkan, tapi lauknya tetep 1 dong hahaha.

      Btw, kalau mba Fanny berminat, beras jagung itu ada yang instan (tinggal diseduh air panas saja), atau yang dimasak seperti nasi (ini yang aku suka yang ini karena masih punya tekstur, nggak lembek kayak yg instan).

      Biasanya beras jagung aku beli di olshop mba, mereknya Dollar, kemasannya 500gr. Beli di pasar juga ada sih, ketengan juga, Tapi beli yang bermerek sudah lebih bersih, selisih harga dikit lah. Masaknya pakai rice cooker aja, praktis. Syukurlah Ibuku mau makan nasi jagung hahaha jadi gak repot2 masak 2 macem nasi.

      Semangat yaaa buat kita!!! Pokoknya selama hepi menjalaninya, lanjutkan!!! :D

      Delete
  15. Wuih 12 kg ya. Top banged. Diet sehat n seimbang butuh perjuangan ya. Salut, kak😊 Bikin aku semangat pingin juga..

    ReplyDelete
  16. Keren bisa tahan setahun pola barunya.
    Saya pernah 3 bulan aja mb.
    Malam gak makan nasi. Siang nasi 1/2 dari porsi biasa.

    Terus jogging 3x seminggu. Bulan ketiga istri saya bilang positif hamil.

    saya langsung brenti pola baru itu. Cukup anak sampe 4 aja ^_^

    ReplyDelete

Post a Comment

Halo, terima kasih sudah membaca. Tinggalkan komentar ya, biar aku bisa balas BW 😊

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?

Kecombrang, Pemilik Aroma Segar Dan Rasa Khas Dari Hutan Indonesia