A Dream Come True, Buku Antologi Pertamaku


Sumber: Dok.pribadi


Jika aku harus menunjuk satu orang untuk kuucapkan terima kasih karena telah mengenalkanku agar mencintai buku, dia adalah Ibuku. Beliau yang selalu mengajak kami ke toko buku sejak kecil dulu, dan membiarkan kami memilih satu buku untuk di bawa pulang. Satu saja, tidak banyak. 
Namun, kalau kupikir-pikir lagi sekarang, sebenarnya kegiatan membeli buku bukan merupakan peristiwa maha pentingnya. Aku rasa, Ibu ingin kami memiliki kesukaan membaca, seperti dirinya. Ibu juga sangat suka membaca, dan menjadi salah satu kegiatan beliau di saat santai, sampai sekarang.  
Awalnya, untuk mengenalkan aku dan adikku pada buku, aku ingat Ibu selalu membacakan buku cerita sebelum tidur siang. Waktu itu kami tentu saja belum bisa membaca. Setelah berganti pakaian dan siap untuk tidur, aku dan adikku akan kruntelan di kasur bersama Ibu. Menanti-nanti saat menyenangkan bersama Ibu. Kadang satu buku habis dibaca hari itu. Namun bila kami sangat menyukai ceritanya, pasti akan kami minta untuk dibaca kembali keesokan harinya. Apabila sudah kehabisan buku, biasanya Ibu akan mengandalkan fantasinya untuk mengarang cerita buat kami J
Ketika sudah mulai bisa membaca sendiri, aku membaca apa saja yang ada di rumah. Mulai dari surat kabar, buku resep dan tabloid milik Ibu, agenda kerja Ayah, buku dan majalah milik kakakku, bahkan kamus Bahasa Indonesia pun aku lahap. Buku kamus sangat menarik karena tentu saja jumlah katanya sangat banyak, dan sangat rapi terorganisir secara berurutan berdasarkan abjad. Menurut kacamataku waktu itu, hal tersebut sangatlah keren J 
Waktu itu kakakku sudah lama berlangganan majalah Bobo. Koleksi bukunya juga sudah cukup banyak. Ada buku petualangan Tini, beberapa buku karangan Enid Blyton, serial Tintin, serial Asterix dan Nina. Jadi waktu itu khazanah per-buku-an sudah cukup luas.
Dari membaca majalah Bobo, aku mulai mengenal tulisan selain cerita. Aku baru mengetahui bahwa puisi juga salah satu bentuk tulisan. Menurutku puisi sangat menarik karena singkat dan padat. Tantangannya adalah menuangkan satu topik dalam satu karya singkat. 
Aku memberanikan diri untuk menulis puisi dan mengirimkannya ke majalah Bobo. Tidak satupun yang dimuat! Karena kesal, aku mengirimkan surat pembaca ke redaksi majalah, protes dan bertanya kenapa tidak memuat satu pun puisiku. Ternyata puisiku tetap tidak dimuat lo hahaha, tapi aku mendapatkan banyak teman yang menulis surat kepadaku. Kebanyakan isinya menghibur dan sempat berbalasan beberapa kali, tapi ada juga yang berlanjut menjadi sahabat pena. Dari bersahabat pena aku semakin banyak berlatih menulis meski hanya menulis surat. Sampai saat ini ada satu teman pena yang masih berhubungan lho. Meski tidak lagi lewat surat dan pena ya, tapi lewat aplikasi pesan di ponsel J
Kembali ke buku, beranjak SMP, aku dan teman-teman mulai mengoleksi komik Jepang. Serial cantik dan horor adalah kesukaaanku. Kami saling tukar koleksi dan kemudian membahasnya dengan seru di sekolah. Apabila ada seri baru komik yang baru terbit, kami akan ramai-ramai ke toko buku untuk membelinya. Waktu itu banyak juga tempat persewaan komik di sekitar rumah dan sekolah. Harga sewanya murah meriah dan terjangkau buat anak sekolah. 
Di SMA, menjadi anggota perpustakaan sekolah adalah wajib. Aku sih senang sekali menjadi anggota perpustakaan. Artinya akses bebas untuk membaca dan gratis hehehe. Beruntung di sekolahku koleksinya cukup lengkap. Ada langganan surat kabar dan majalah, mulai dari majalah gaya hidup sampai yang membahas ekonomi dan politik. Jadi saat itu bacaanku cukup beragam topiknya. Untuk surat kabar dan majalah harus dibaca di tempat. Untuk novel dan buku pelajaran bisa dipinjam dan dibaca di rumah. Disinilah aku mengenal novel karya Agatha Christie, Stephen King, Sidney Sheldon, Danielle Steel, dan Erich Siegel. Ceritanya beragam mulai dari misteri, horor, drama keluarga, sampai drama politik.
Selain di sekolah aku juga punya kegiatan les bahasa Inggris. Di tempat lesku juga ada perpustakaannya. Bedanya koleksi bukunya lebih fokus di buku-buku berbahasa Inggris. Berbagai majalah dan buku impor juga ada, serasa surga! Bacaanku bertambah lagi. Dan aku semakin menyukai membaca.
Memasuki bangku kuliah, hobiku tidak surut. Malah semakin sering membeli buku karena aku sudah mulai bekerja sambilan. Karena memiliki uang sendiri, membeli buku menjadi sebuah kewajiban. Setiap akhir pekan, toko buku menjadi salah satu tempat yang harus dikunjungi. Toko buku diskon mulai menjamur, semakin mendukung hobi yang ini.
Berbeda dengan masa sekolah, perpustakaan kampus hanya memiliki koleksi diktat kuliah. Meski keanggotaannya gratis, aku hanya kesana untuk mengerjakan tugas dengan teman-teman. Ada sih perpustakaan universitas, jauh lebih besar dan beragam koleksinya. Tapi karena jauh lokasinya, aku hanya beberapa kali kesana.  
Oiya, aku juga punya dua orang sahabat dalam hal per-buku-an. Sebenarnya kami bersahabat dalam semua hal. Namun untuk satu hal ini, yaitu buku, kami akan selalu sepakat. Mereka temanku dalam hal bertukar buku, membahas buku baru, saling memberikan referensi buku bagus, sampai saling memberikan kado berupa buku. Sampai sekarang! Kadang kami sudah saling menduga akan diberi kado buku. Tapi buku apakah yang akan aku dapatkan? Jadi deg-degan hahaha... Wahai para pecinta buku, kado buku terasa spesial bukan meski sebenarnya kita bisa membeli sendiri? J
Aku mengenal Serial Harry Potter saat kuliah juga, ketika buku ketiga Prisoner of Azkaban terbit. Seketika aku langsung jatuh cinta. Sosok Harry yang bandel dan setia kawan, namun memiliki kelemahan dalam hal pelajaran, seperti layaknya semua anak-anak, membuatnya disukai sekaligus dikagumi oleh semua pembaca Harry Potter. Bersama Ron dan Hermione, serial ini menyihirku juga. Meski aku sudah cukup dewasa waktu itu, tapi menurut aku JK Rowling adalah seorang pembawa keajaiban di dunia khayalan semua umur, bukan hanya anak-anak saja. Sejak membaca buku ketiga (dipinjami oleh teman kuliahku), aku mulai berburu buku kesatu dan kedua, berikut pernak-perniknya. Setelahnya, setiap serinya selalu kubeli dengan sistem pre-order, biar tidak kehabisan dan repot-repot keliling di toko-toko buku. 
Semenjak bekerja, sejujurnya waktu untuk membaca semakin menipis. Kadang membaca menjadi terlalu melelahkan untuk diselipkan di sela-sela kesibukan. Karena sejatinya, membaca itu butuh waktu dan ruang, menurut aku pribadi ya. Namun kegiatan membeli buku masih tetap ya hehehe. Akibatnya antrian buku yang harus dibaca menggunung. Tapi optimisme itu tetap ada, suatu saat pasti kubaca.
Kenapa sih suka sekali membeli buku? Karena proses membeli buku itu sangat seru. Yang aku bicarakan membeli buku secara manual ya, bukan beli online. Manual itu maksudnya pergi ke toko buku, dan excited dengan hanparan buku yang bagai memanggil-manggil untuk dibeli. Karena ingat dengan budget membeli buku, mulai galau harus memulai dari mana untuk menyisiri buku-buku ini. Inginnya bisa melihat semua buku, kuatir akan melewatkan sebuah buku bagus, sebelum menjatuhkan sebuah pilihan. 
Awalnya yang membuatku melirik pasti dari judul bukunya. Entah itu tentang topiknya yang memang menarik, atau hanya pilihan katanya yang tepat. Kemudian beralih ke sampul depan buku. Tidak bisa dipungkiri, kesan pertama memang dari sampul bukunya. Entah itu warnanya yang indah, ilustrasinya yang mengundang, atau keduanya. 
Langkah berikutnya, membaca ulasan atau sinopsis buku di sampul belakang. Hati-hati, dengan kepiawaian si Penulis (atau tim Marketing?), bagian ini sering menjebak. Terpesona dengan sinopsis bukunya, ternyata setelah dibeli dan dibaca mengecewakan. Tapi itu menjadi bagian dari pencarian jati diri. Selera tulisan, tepatnya. Kekecewaan demi kekecewaan yang kamu alami, membuatmu tahu selera bacaanmu, atau mungkin aliran menulismu kelak J
Aku menganut kepercayaan, bahwa bila lima halaman pertama sebuah buku sudah tidak menarik, ya sisanya berarti tidak menarik. Mudah saja. Tidak perlu repot-repot menyelesaikan. Ini juga kuperoleh dari pengalaman ya. Bila dalam lima halaman pertama tidak bisa “mengikat” hatimu, tinggalkan saja. Tidak berlaku untuk hal lain ya J
Karena banyak menelan kekecewaan, sekarang aku lebih memilih untuk meminjam e-book yang gratis dan legal terlebih dahulu. Apabila aku menyukai buku itu, baru akan kubeli. Karena buatku, buku adalah warisan. Warisanku ke anak-anakku kelak. Aku ingin memberikan warisan buku-buku yang baik dan bermanfaat. Meski kelak mungkin mereka akan punya selera yang berbeda denganku, paling tidak aku sudah punya tabungan untuk mengajak mereka mencintai buku, seperti yang Ibuku lakukan kepada kami. Terima kasih Ibu, dengan membaca aku juga mencintai menulis, lalu menemukan diriku.


Artikel ini diikutsertakan dalam proyek nulis keroyokan One Week One Book Community 2018, judul buku Sederet Cerita Para Pecinta Buku.


Sumber: Dok.pribadi



***

Jadi sudah lama kumencari draft asli naskah ini, akhirnya ketemu setelah beres-beres folder di laptop πŸ˜„πŸ˜„ *Terima kasih buat Konmari yang menginspirasi aku untuk berbenah di laptop juga.

Berikut tampilan buku dan artikel yang kucuplik dari IGs pribadi


Comments

  1. Sama, saya juga gitu jika lima halaman pertama kurang asik, saya biasanya ga nerusin wkwkw tapi tergantung sih kalau buku temen deket suka saya habiskan dulu siapa tau belakangannya seru, hhehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo buku temen harus dihabisin mbakk biar puas ngatain nya hahaha

      Delete
  2. Toss...sesama Potterhead kita. Btw..sekarang kegiatan membaca beneran banyak distraksinya. Hiks
    Maka mulai tahun ini aku bikin challenge buat diri sendiri #sati?uminggusatubuku. Jadi baca buku dan setelahnya kureview di blogku. Hasilnya, lumayan juga..meski meleset dari target. Januari lalu 3 buku, Februari ini Insya Allah 3 juga:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm klo di IG bisa join akun OWOB mba,, one week one book. Aku juga notice sih, mbak Dian sering buat review buku ya πŸ˜€

      Tos mbak, aku juga lagi memulai kebiasaan baru, membaca 1 buku setiap minggu. Baru mulai minggu ini wkwkwk

      Delete
  3. wuah sama. tapi aku gak pernah diajak ke toko buku untuk membeli buku cerita atau hiburan, hanya pelajaran. kalau buku cerita, langsung dibelikan oleh Ayah sebagai oleh-oleh pulang darimana gitu..

    ya memang aku ngerasa stok buku bacaanku sedikit dan aku merasa nganggur banget
    untungnya ada TBM (Taman Baca Masyarakat) di dekat rumah
    ya tiap pulang sekolah aku ke sana deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa aku juga baru aja daftar anggota perpus di kotaku. Skrg perpus mah udh maju, koleksi bukunya juga keren2. Pas lah, dengan momentum aku mau mulai baca 1 buku setiap minggunya.

      Delete
  4. Hihihi emang standar pembaca ya
    ?. Novel Agatha Christie, Stephen King, Sidney Sheldon, Danielle Steel, dan Erich Siegel, Nora Roberts, Sandra Brown ...duh jadi pingin baca ulang 😁😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi standar angkatan kita sepertinya mbak πŸ˜€πŸ˜€

      Delete
  5. Jadi penyemangat nih buat saya mengenalkan buku kepada anak.
    Selama ini sih sering banget saya ajak ke toko buku, tapi abis itu saya larang nggak boleh beli buku, lah abisnya dia pilih yang mahal hahaha.

    Kayaknya memang harus dipaksakan nih biar anak punya kenangan terhadap buku, lagian nggak ada yang rugi kok investasi baca buku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah sih mbak. Aku juga gak yakin, tapi sepertinya aku memang bakat suka baca, jadi gak sulit mengenalkan ke buku. Atau gimana ya, aku blm tahu sih pengalaman Ibu2 yang lain gimana?

      Delete
    2. hihihi maksud saya, saya harus bisa lebih melihat sisi positif anak membeli buku meski yang 'mahal' buat saya.

      Anak saya suka baca sih, cuman support bukunya yang harus kami usahakan :)

      Delete
    3. oh begitu ya hehehe

      tapi beneran mbak, kayak ponakanku, meski sejak kecil sudah dikenalkan ke buku, tetap saja gak suka, bosenan kalau duduk diam membaca, dia lebih tertarik ke kegiatan fisik, mgkn karena anak kinestetik ya

      Delete
  6. Aku suka banget sama konsistensinya mencibtai buku. Itu keren sih menurutku. Dari kecil hingga dewaasa ga berubah itu agak susah buat kebanyakan kita termasuk aku yg teralihkan sama dunia baru πŸ˜„πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Main hape ya godaanyaa hehehe nah makanya bacanya di pindah lewat HP aja πŸ˜€πŸ˜€

      Delete
  7. Haha... dan setelah sekian lama membaca karya-karyanya dan mengira JK Rowling itu laki-laki, saya syok ketika tahu ternyata dia perempuan.

    Artinya kita (perempuan) punya kans untuk jadi penulis besar juga ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa JK Rowling inspirasi aku banget sih. Dia sukses juga di usia yanh dewasa. Jadi masih optimis lah aku, karna pengen punya buku sendiri jugaa

      Delete
  8. Ibuku gak suka membaca kak..
    Yang suka membaca itu bapak. Tapi bapak pun sebenarnya gak menularkan semangat membaca. Semua terserah. Nah, kakakku rajin amat koleksi bobo dan juga komik, sebenarnya aku gak suka.

    Tapi suatu hari aku lagi cari buku sekolah yang entah di mana. Kubongkar koleksi buku kakakku, ketemu sebuah buku lupus kecil, kubuka salah satu halaman, terus kubaca sedikit. Ehh kok enak, kubaca lagi dan akhirnya jadi suka membaca .

    Awalnya mungkin buku begitu, lama-lama semua buku jadi suka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahhh klo udh nemu buku dan pewe, susah deh wkwkwk langsung males ngapa2in pengen goleran aja baca sambil tidur

      Delete
  9. Saya waktu kecil boleh dibilang si kutu buku karena pasti tiada hari yang saya lewati tanpa membaca eh sekalinya sudah besar malah sebaliknya. Masih suka membaca sih tapi kebanyakan bacanya di gadget hehe. Makanya tahun ini saya menantang diri untuk ikut challenge membaca sekaligus meresensi buku apa saja yang sudah saya baca tiap bulannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tos mbakk, aku juga lagi punya program begitupun, semangat kita yaa 🀠🀠

      Delete
  10. Aku juga suka banget baca buku, sayangnya di jaman kecilku buku sangat susah untuk didapat. Perpustakaan juga tidak ada. Paling baca klo kakakku lagi entah kemnaa, saya diem diem nyuri baca dari novel yang dia pinjem entah dari mana. Itu pun novel porno. Hehe.

    Bacaan yang paling menarik lainnya, buku Wiro Sablengnya Bastian Tito punya temen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa baca komik2 begitu pun suka lho.. cuma krna gak punya sodara cowok ya, jd bacaannya ya bacaan cewek wkwk

      Delete
  11. Saya punya lebih dari 800 buku di rumah, di kampung halaman saya. Beberapa sudah dimakan rayap, sedih sekali waktu mudik lebaran 2 tahun lalu membersihkan pustaka pribadi di rumah saya. Maklum, saya ikut suami ke Bali dan kami masih harus rotasi ke berbagai kota terkait pekerjaan suami. Membaca buku cetak bagi saya sekarang momen langka, sejak si kembar lahir. Mungkin saat anak-anak sudah besar, saya bisa kembali jadi pelahap buku. Hehehe. Terima kasih ceritanya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh sedihnyaaa..

      Beberapa koleksi saya hibahkan mbak, krn saya juga mobile, merasa bersalah sm buku2 yg tidak/jarang kuurus.

      Selain juga, minimalism sih, yg kusimpan yang sukak banget ajah

      Delete
    2. Itulah mba, saya dulu terlalu ingin tetap memiliki. Saya buka pustaka saya untuk rumah baca di rumah. Kebetulan rumah saya dekat dengan sekolah-sekolah. Banyak anak-anak sekolah datang ke rumah dan mereka baca di tempat. Saya ikhlaskan, tapi saya tidak banyak sumbangkan. Huhuhu. Baru beberapa waktu lalu saya menyumbangkan sebagian buku-buku saya.

      Delete
    3. wah kalau sudah punya taman bacaan ya keren banget mbak! Paling tidak kan bermanfaat buat sesama ya, anak-anak sekolah bisa menikmati. Keren banget mbakk!!

      Delete
  12. Saya nggak terlalu mencintai buku kayak mbak. Mbak mirip dengan suami saya. Bentar-bentar beli buku. Trus buku2 lama yang udah dibaca, tiba2 pengen dibaca lagi. Banyak novel yang dipinjam (termasuk harry potter), bahkan siroh nabawiyah nggak dibalikin temen sampe dia lupa siapa yang pinjem. Baru beberapa bulan lalu dia minta beli satu paket novel harry potter bekas karena kangen pengen baca lagi. Udah lama minta beli Kindle, tapi blom saya approve, hehe..
    Salut dengan pecinta buku seperti kalian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haduh aku jelas gak akan pinjemin buku ke teman, kalo buku itu kesayanganku, daripada daripada wkkwkwk biarin lah dibilang pelit, kalau mau ya beli saja sendiri sana wkwkwk

      Delete
  13. Kehadiran e-book memang nggak bisa melepaskan ketertarikanku pada buku fisik. Gimana, ya? Ada sensasi tersendiri gitu saat menyentuh bukunya, terus nanti saat plastik dibuka, ada sensasi beda lagi saat menghirup aroma kertasnya. Seru banget! Itu nggak bisa dong diperoleh dari e-book.

    Kalau aku yang mengajari membaca tuh ibu tapi ibuku aslinya nggak suka membaca. Lucu, ya? Kebiasaan membaca justru aku dapat dari bapak. Dulu suka dibelikan majalah anak, koran, majalah remaja, kadang baru kadang bekas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa pokoknya memang di awal harus diperkenalkan ke buku ya mbak, biar bisa tahu senangnya membaca, kalau pada akhirnya memilih gak suka ya mau bagaimana lagi, kan masing-masing anak beda-beda seleranya

      Delete
  14. Dulu aku juga mencintai buku berawan dari dilangganin bobo ma alm ayahku. Beliau pemberi semangatku untuk hobi membaca. Dan sekarang aku coba tularkan itu ke anak-anak. Dan aku juga masih suka buku fisik daripada ebook.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seru kan ya mbak, kalau bisa baca bareng sama anak-anak, semacam we-time gituuu

      Delete
  15. Saya dulu seriing banget baca buku, apalagi novel, 100 halaman bisa selesai hanya dua hari ��. Tapi, sekarang2 ini sudah mulai berkurang, apalagi udah ada DL yg mesti dikerjakan ya membaca jadi seperlunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, saya akui saat ini sulit juga meluangkan waktu untuk membaca buku. Tapi 2020 ini aku mau berkomitmen mulai membaca lagi sih, biar lebih maksimal waktunya

      Delete
  16. MasyaAllah Mbak, beruntungnya dirimu, yang mengenalkan kecintaan pada buku adalah ibu. Banyak ibu yang iliterate di sekitarku.
    Aku sendiri lupa entah siapa yang membuatku suka buku. Tahunya saat pertama kali diperkenalkan pada perpustakaan SD pada tahun 1986an dan mataku berbinar menatap judul-judul yang ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau menemukan kesukaan dengan cara sendiri juga keren lah mbak. Artinya pro aktif melakukan eksplorasi untuk hobi dan kegiatan baru ;)

      Delete
  17. Saya juga awalnya suka membaca karena Ibu saya, Mbak Kartika. Jadi awalnya Ibu saya langgani saya majalah Bobo usia 5 tahun. Nah, dari situ saya suka membaca cerita. lalu terus suka membaca buku cerita. Cerita Tini, Tintin, sampai Nina punya kakak cewek saya, saya baca hahaha. terus berlanjut, pasukan mau tahu, sapta siaga, trio detektif, sampai akhirnya S Mara GD, V Lestari, Agatha semua saya lahap hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya koleksi bacaan di rumah masa kecil mirip2 ya Mas wkwkwk, keren2 sih memang novel jaman dulu

      Delete
  18. jaman muda doyan banget baca buku,setelah punya anak, boro2 sempet baac, sudah anak dewasa, mau baca lagi matanay sudah gak kuat laam2 baca, jadi baca satu buku saja bisa lama banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe gak papa lama Mbak, yang penting tetap disempatkan. Konon katanya membaca buku juga melatih otak agar tidak lekas pikun lho

      Delete

Post a Comment

what do you think? :)

Popular posts from this blog

Parasite (2019), Film Terbaik Pemenang Oscar 2020

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?