Kenapa Harus Menulis?

pexels.com/kaboompics


Kesukaan menulis ternyata sudah kupupuk sejak belia. Berawal dari curahan hati di buku harian, mencipta puisi di halaman belakang buku-buku pelajaran, sampai menulis cerpen di kertas-kertas tidak terpakai milik ayahku di meja kerjanya di rumah. Pengalaman menulis itu memberikan ketenangan sekaligus menjadi jalan keluar bagi kesemrawutan di kepalaku.

Beranjak dewasa dan sibuk dengan kegiatan kuliah sambil bekerja sempat membuatku melupakan hobi menulis. Begitu banyak hal baru yang kala itu terasa lebih menarik. Salah satunya bekerja dan punya uang sendiri sehingga aku bisa puas berbelanja buku. Membeli buku baru adalah salah satu kemewahan di masa remajaku. Biasanya kami sudah cukup terpuaskan hanya dengan meminjam di perpustakaan sekolah atau menyewa di taman bacaan.

Dalam hal membaca aku tidak pilih-pilih. Hampir segala genre buku aku cicipi. Saking serunya bertualang di dunia membaca, aku benar-benar melupakan soal tulis menulis.

Sampai datang masa kejayaan Friendster. Waktu itu menulis testimoni di halaman teman adalah salah satu kesenanganku. Mendeskripsikan seorang teman dalam ruang kata yang terbatas menggelitik rasa penasaranku. Bagaimana menuliskannya dengan jujur tapi tetap menarik untuk dibaca.

Aku jadi terbiasa menulis di ranah yang lebih singkat. Baik di Facebook, Twitter, maupun Instagram, aku tetap bermain di kalimat-kalimat pendek sebagai pilihan ekspresiku. Buatku semakin singkat, semakin menantang. Bagi diriku yang sebenarnya sangat ekspresif dalam bahasa lisan, menulis dalam keterbatasan menggugah sensitivitasku dan menantangku untuk menemukan diksi-diksi baru.

Lalu di suatu hari di akhir tahun 2017, aku mengenal kegiatan 30 Hari Bercerita di Instagram. Buat yang belum tahu, sebuah akun bernama @30haribercerita mengajak untuk rutin bercerita selama 30 hari penuh di Januari. Yak betul, hanya di bulan Januari. Kita bisa bercerita tentang apa saja, bebas. Kecuali di hari-hari tertentu akan ada tema yang diberikan secara dadakan. Setiap harinya akan ada tulisan favorit yang dipilih oleh admin, dan akan di-repost sebagai prestasi kebanggaan bagi yang terpilih.

Aku memutuskan untuk berani berkomitmen dalam 30 Hari Bercerita di Januari 2018. Menulis panjang tentang kisah remeh temeh hari itu, setiap hari selama 30 hari. Tentu saja aku tidak berhasil. Aku hanya mampu menulis selama 22 hari.

Tapi aku tidak merasa gagal.

Justru aku merasa menemukan kembali diriku yang dulu. Yang bahagia berekspresi lewat tulisan melalui kata-kata. Bisa mengurai kekusutan dalam kepalaku, meluapkan perasaanku hari-hari itu, juga menyampaikan pikiranku ke tempat yang tepat.

Beberapa tulisanku di-repost, yang bukan main membuat hatiku berbunga karena bangga. Tapi yang sungguh-sungguh membuatku bahagia adalah komentar-komentar positif dari kawan-kawan. Yang berkata ceritaku menggugah mereka. Ada yang membuat sedih, ada pula yang membuat tertawa meringis. Baru kali itu kupahami sepenuhnya, ketika seorang musisi berujar bahwa bahagia itu ketika lagunya menyentuh hati pendengarnya.

Mungkinkan sekarang aku bisa berkata bahwa aku bahagia saat tulisanku menyentuh hati pembacanya?

Sejak itu, aku aktifkan kembali blogku. Aku bertekad untuk kembali menulis di blog. Mencatat peristiwa hidupku dan membekukan kenangan dalam tulisan.

Agar aku tidak melupakan.

Agar aku punya sesuatu untuk digenggam dan dibaca kembali.

Agar suatu saat nanti menjadi pengingat bahwa aku pernah ada.

Dan anak cucuku kelak bisa mengenang dari tulisan-tulisanku.

Aku sungguh berharap dapat memenangkan pelatihan online Menulis Fiksi bersama Leila S. Chudori. Beliau adalah salah satu penulis favoritku. Membaca karyanya yang seringkali sarat dengan sejarah negeri ini, tapi aku selalu bisa menikmatinya dari sisi lembutnya, yaitu tentang cinta, kasih sayang, persahabatan, dan kekeluargaan. Membaca karyanya seringkali mengingatkanku untuk kembali ke rumah dan memeluk satu-satu orang-orang kesayanganku.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi bekerja sama dengan Tempo Institute.

Comments

  1. Perjalanannya hampir sama, cuma saya belum pernah nyoba nih bikin cerpen gitu, hihi

    Semangat mbak, semoga hasil yg diinginkan tercapai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnn, semangat menulis juga buat Mba Gina yaaa ^-^


      Mungkin harus dicoba Mbak, kadang cerpen bisa jadi modus buat curcol dengan nama samaran hahaha

      Delete

Post a Comment

what do you think? :)

Popular posts from this blog

Parasite (2019), Film Terbaik Pemenang Oscar 2020

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?