Tentang Perubahan Iklim, Apa yang Bisa Kita Kerjakan?

 

taman kecil kami di rumah, sumber: instagram.com/sellypadi


Sore itu kami duduk-duduk di teras rumah. Pemandangannya tidak muluk-muluk. Hanya hamparan rumput gajah yang tidak begitu luas. Ada juga aneka pohon bunga, buah, sayur, dan toga milik Ibu. Angin sepoi-sepoi membelai wajah dan rambut kami di sela pembicaraan yang seru. Tidak lama datang beberapa pasang burung gereja hinggap di salah satu pohon.

Yap, halaman mungil kami ini rupanya menjadi jujugan banyak burung gereja di sekitar rumah. Karena banyaknya pohon, mereka bebas hinggap dan bahkan ada yang membuat sarang di pohon cemara kami. Tetanggaku yang punya hobi memelihara burung bahkan berkomentar, “Saya yang suka burung harus beli dulu Bu. Kalau di rumah Ibu, burungnya yang datang sendiri.”

Kala itu aku baru menyadari, betul juga bahwa kita yang tinggal di kota sudah jarang melihat aneka burung bebas bermain di alam. Kurangnya lahan dan pepohonan yang tumbuh, mungkin menjadi salah satu alasannya. Ternyata dengan memanfaatkan lahan mungil di rumah, kita bisa juga mengundang burung-burung ini untuk datang dan bercengkerama.

 

Perubahan iklim di sekitar kita

Jika kita diberikan data tentang kenaikan emisi gas rumah kaca, atau perubahan iklim global yang menyebabkan naiknya permukaan air laut, mungkin kita akan mengindahkan. Karena secara signifikan tidak memberikan efek langsung ke kita.

Tapi coba rasakan suhu udara sehari-hari saat ini. Tidakkah terasa lebih panas di siang hari? Langit memang bersih dan cerah. Matahari bersinar dengan garangnya. Di bulan Agustus seperti sekarang ini, suhu udara berkisar di 25 hingga 36 derajat Celcius. Panas dan terik sangat terasa.

Masih Ingatkah, sejak beberapa tahun lalu ada fenomena embun es semacam salju di daerah Dieng? Kini fenomena ini terjadi di setiap tahun. Bulan Juli lalu embun es muncul kembali. Banyak juga daerah lain di Indonesia yang merasakan perubahan suhu yang sangat mencolok, sangat panas di siang hari, sangat dingin di malam hari. Di Jawa Timur kami menyebutnya mbediding.

Masih ingat pelajaran IPA ketika di sekolah dasar dulu? Aku ingat hafalanku dulu bulan yang berakhiran –ber artinya musim hujan. Tapi jika kita melihat beberapa tahun ke belakang, musim hujan bisa datang terlambat, dan berakhir lebih cepat.

Burung gereja yang kukisahkan di awal, mungkin juga merasakan perubahan iklim hari ini.

Mungkin kita sudah mulai terbiasa. Seperti analogi katak yang direbus di dalam panci. Dia tidak mengetahui bahwa air itu bisa membunuhnya. Suhu air yang naik perlahan membuatnya lengah. Dia terus beradaptasi hingga suatu saat baru menyadari bahwa lingkungannya sudah tidak aman lagi. Dan itu sudah terlambat.

Apa yang bisa kita lakukan terhadap perubahan ini?

Aku sudah memulainya. Tidak perlu melakukan hal yang besar dan rumit, cukup dimulai dari diri sendiri.

 

Membawa alat makan sendiri ketika bepergian

Untuk minum, aku selalu membawa tumbler dan sedotan dari rumah. Selain lebih higienis, aku juga dapat berperan dalam mengurangi sampah plastik kemasan. Beruntung sekarang sudah banyak tempat umum yang menyediakan air putih isi ulang. Tugas kita hanya membawa tumbler sendiri. Oiya, ada juga lho aplikasi Refill My Bottle, yang akan mengarahkan kita ke tempat isi ulang minuman terdekat dari lokasi kita.

Untuk makan aku selalu membawa sendok, garpu, dan sumpit pribadi. Daripada pakai alat makan dari plastik yang sekali buang, sayang banget kn kalau harus menambah sampah lagi di bumi ini.

Bahkan ketika liburan roadtrip yang lalu, keluarga kami membawa galon air lho untuk bekal air minum selama di jalan. isi ulang galon sangat mudah ditemui di minimarket di seluruh Indonesia. Kami lebih berhemat dan dengan bangga kami bisa berujar, tiidak ada sampah botol plastik yang kami hasilkan selama perjalanan darat.  

 

Memakai masker kain

Sejak pandemi corona melanda, memakai masker menjadi gaya hidup baru. Aku lebih menyukai masker kain karena lebih ramah lingkungan. Motifnya pun sekarang beragam dan fashionable. Ramah lingkungannya dapat, kerennya juga dapat. Aku membawa beberapa helai untuk jaga-jaga selama perjalanan.

 

Menggunakan handuk daripada tisu

Aku selalu membawa handuk kecll di tas untuk berjaga-jaga ketika diperlukan. Untuk membersihkan tangan aku lebih suka mencuci tangan dengan air yang mengalir, atau cukup dengan hand sanitizer. Bisa banget kok megurangi pemakain tisu dalam kegiatan sehari-hari.

 

Membawa tas belanja kain

Di tas dan di kendaraan pribadi selalu kusediakan tas belanja kain. Jadi kapan saja aku belanja, aku sudah siap dengan tas belanja sendiri. Selain ramah lingkungan, aku juga bisa berhemat ongkos kantong plasik berbayar.

 

Menghemat energi

Ketika di rumah saja, aku selalu menerapkan kebiasaan kecil penghematan energi. Contohnya mencabut semua kabel dari saklar setelah selesai digunakan (yap, termasuk charger HP). Karena sirkulasi udara dan cahaya di rumah kami cukup baik, lampu dan AC jarang dinyalakan di siang hari. Oiya, kami juga membuat jadwal mencuci baju agar dapat lebih menghemat listrik dan air.

 

Gaya hidup minimalis

Dua tahun belakangan ini aku juga belajar mengadaptasi gaya hidup minimalis. Usaha memilah barang sudah kulalui, dan kini barang yang kumiliki jauh sangat berkurang. Tapi aku bahagia, karena hidupku lebih mudah dan jauh lebih ringan.

Ketika akan membeli barang, aku juga akan sangat memikirkannya. Apakah sungguh akan terpakai dan di mana akan menyimpannya. Gaya hidup ini sungguh mengubah gaya belanjaku.

 

Sebenarnya masih banyak sekali kekurangan dalam hal mengubah gaya hidup demi semangat ramah lingkungan. Namun setiap langkah kecil berperan besar bukan?

Semoga aku bisa tetap konsisten mempertahankan, dan segera dapat menambah perubahan kecil lainnya.

 

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

Comments

  1. Kalo aku tanam pohon sukun depan rumah sama pohon mangga mbak, barang kali lima tahun lagi berbuah kan lumayan, mana hawanya adem kalo nanti pohonnya sudah besar.

    Kalo gaya hidup minimalis sepertinya belum sih, baju masih banyak padahal yang dipakai itu itu saja. Tapi bukan sering beli baju, cuma aku berprinsip biarpun sudah kusam yang penting belum sobek maka tidak aku buang, makanya numpuk di kardus.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha justru baju yang kusam itu uenak banget dipake tidur ya. Ademm gituu. Ditambah ada bau2 baju lama hahaha

      Baju2 lama buat tidur itu justru yang dipertahankan mas karena pasti kepake. Gak susah memutuskannya. Yang susah yang masih bagus, tapi sudah gak muat, lalu berharap suatu saat akan muat lagi hahaha

      Delete
  2. yang saya selalu lakukan bawa tumbler sendiri, kemanapun itu. udah hampir ga pernah beli air mineral kemasan lagi, selain ya minuman rasa2, tapi udah jaraaang.

    memang makin lama, persaan makin panas, malam udah ga bisa tidur tanpa pendingin lagi, perubahan sudah terjadi sejak lama.

    ReplyDelete
  3. memang semakin panas bumi ini. di cirebon kerasa banget kalau sudah panas, rasanay malas keluar rumah

    ReplyDelete
  4. gaya hidup minimalis itu penting banget
    paling enggak kalau masih bisa jalan kaki atau sepedaan aja
    itu berguna banget menekan emisi gas buang terutama gas rumah kaca yang bisa menjadikan perubahan iklim
    memang harus dimulai dari diri sendiri ya mbak
    membawa kantong belanjaan sendiri juga sangat penting sekali

    ReplyDelete

Post a Comment

Halo, terima kasih sudah membaca. Tinggalkan komentar ya, biar aku bisa balas BW 😊

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?

Kecombrang, Pemilik Aroma Segar Dan Rasa Khas Dari Hutan Indonesia