Imperfect (2020), Mencintai Diri Sendiri itu Penting


satuharapan.com

Aku angkat topi pada pada Ernest dan Meira, sutradara dan penulis buku Imperfect, yang menurut aku sukses membagikan pesan bahwa cantik itu tidak melulu kurus dan putih. Di era serba visual ini, penampilan memang bisa menjadi segalanya. Penting banget sih mengangkat masalah ini ke ranah bioskop lewat media pop, agar bisa masuk ke segala segmen dan pesan bisa tersampaikan.
Meski demikian aku punya sedikit catatan pribadi buat film ini. Ini tidak bermaksud julid ya, hanya saja aku ingin mengungkapkan hal yang menggelitikku di sini.


Penampilan Rara di kantor

Diceritakan Rara, seorang perempuan 27 tahun, seorang profesional yang bekerja di sebuah gedung perkantoran megah di Jakarta. 
Jujur sejak trailernya muncul, aku sedikit menaikkan alis sih. Menurut aku, sosok Rara di sini ditampilkan dengan agak kacau ya, bahasa halusnya penampilannya sangat berantakan. Bisa dibilang terlalu lebai dan dramatis. 
Untuk ukuran seorang perempuan umur 27 tahun, rasa-rasanya hampir tidak mungkin Rara tidak tahu gaya signature-nya. Umur 27 tahun bukan lagi usia dimana para perempuan masih mencari jati diri, termasuk gaya berpakaiannya.


Kuakui dulu di masa remaja aku juga cupu banget. Karena berbadan besar (baca : gemuk), pakaian dan celana longgar adalah gaya kebesaranku. Udah paling nyaman itu. Masuk kuliah, melihat teman-teman cewek lain yang tampil feminin, jadi kepingin dong. Apalagi saat itu mulai punya penghasilan sendiri. Mulai berani deh, eksperimen baju dengan beda gaya, meski belum feminin ya. 
Nah setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, pandangan soal gaya berpakaian juga berubah dong, yaitu lebih formal. Lebih rapi dan kantoran look. Melihat lebih banyak lagi orang-orang yang berpakaian rapih dan serius, sungguh menggerakkan hati untuk menyesuaikan. Ini kira-kira usia 22/23 tahun ya. 
Nah, jadi yang membuatkan menaikkan alis adalah, heran aja si Rara udah umur 27 tahun, dengan  posisi manajer riset, berpenampilan seacak-adul begitu. Gemes gitu lihatnya, ingin kuajak ke kamar pas untuk coba-coba baju kantoran.
Aku selalu percaya, aku berpakaian bukan untuk memberi kesan pada orang lain. Tapi bagaimana caraku menghargai diri lewat pakaian, utamanya di ranah profesional ya.


Diskriminasi di kantor

Adegan ketika terang-terangan si Bos menyatakan bahwa penampilan Rara yang menyebabkannya kalah bersaing untuk promosi, wow ini lebih membuatku geleng-geleng kepala.
Ini namanya sudah diskriminasi lho! Serius!
Di kantor, apabila kita diperlakukan berbeda, bukan karena pretasi kerja kita, itu sudah pelanggaran terhadap persamaan hak lho. Aku kepingin menggarisbawahi ini sih.
Aku juga pernah mengalami diskriminasi, waktu itu karena hijabku. Saat itu yang terlintas dalam pikiranku adalah, aku merasa diperlakukan tidak adil karena aku dinilai berdasarkan hijabku, bukan karena prestasi kerjaku. 
Kalau kerjaanku gak bener, aku pasti akan memohon untuk diberi kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kinerjaku. Tapi kalau karena hal diluar kinerja, apalagi hanya soal penampilan, “Well.. well.. well, sorry to say, you are the one who lose me, Sir!"


Sebagai penutup, aku juga punya kok favorite thing dari film ini. Quoting Fey, sobat si Rara, 
“Kamu boleh mengejar apapun yang kamu mau, tapi hati-hati kamu bisa kehilangan semua yang sudah kamu punya.”
Manteb ya?!
Beda tipis lah dengan nasihatku ke Rara. “Kalau ada cowok seganteng dan sebaik Dika yang sudah menyayangiku, aku gak akan repot-repot membuktikan ke semua orang kalau aku bisa lebih baik.” 

Comments

  1. Memang seharusnya segala sesuatu jangan hanya dinilai dari penampilan luarnya saja yaaa, tapi di dunia kerja, hal-hal seperti penampilan masih menjadi salah satu penilaian dasar ketika sebuah perusahaan menerima karyawannya~ makanya yang cantik dan ganteng kadang punya freepass kalau kata orang-orang :))

    However, semisal kita bukan kaum yang memang memiliki penampilan paripurna, tetap bisa bersaing kok dengan mereka yang memiliki wajah sempurna. Selama kita punya otak dan skill plus percaya diri yang besar, biasanya mampu juga bersaing di perusahaan :D

    Nggak bisa dipungkiri, lookism masih ada di mana-mana :>

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin untuk beberapa posisi, penampilan bisa jadi pertimbangan pertama ya. Maksudku adalah perlu dimengerti bahwa, diskriminasi fisik itu nggak banget, bahkan di lingkungan profesional. Tentu saja masih banyak orang-orang dengan pandangan seperti itu, banyak banget malah.
      Kalau kita memahami bahwa ini hal gak bener, kita bisa lebih bijak bersikap. Tahu nilai kita, dan mulai menghargai kita. Karena orang-orang yang menilai kita juga gak lebih baik kok. Kebetulan saja mereka di posisi yang memungkinkan untuk berbuat demikian :)

      Delete
  2. Film ini salah satu yang pengen banget sy tonton. Dan quote-nya asli jleb banget. Sy pun sepakat sih kalau kita udah punya sesuatu yang patut dipertahankan kenapa harus pusing mikirin orang lain yang sebenarnya nggak ada hubungan langsung dg hidup kita. Yang hanya sekadar lewat selintas lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa sifat dasar manusia kali yaa, yang belum punya yang dicari-cari. Yang sudah di tangan, dan dimiliki, we take it for granted. Pelan-pelan kita bisa belajar lebih bersyukur dan menghargai apa yang kita punya

      Delete
  3. Jujur aku belum nonton film yang satu ini, tapi kalo melihat review-nya kayaknya sih ok juga.

    Btw, yang jadi pemeran Rara itu siapa kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah masa gak tahu sih :) Kalo DIka aku kasih tahu deh, itu Reza Rahadian

      Delete
  4. Jadi penasarannn
    Kukira tdnya spt sinetron ya, tapi kayaknya seruu, banyak pesan moralnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, khasnya film Ernest banyak pesan sih yang mau disampaikan, dan ngena pula ke penonton, Dua jempol buat duo Ernest-Meira

      Delete
  5. Ubah insekyur jadi bersyukur ya mbaaaa, Begitu nasihat Mamak Meira di setiap kesempatan. Emang keren abis ini buku dan filmnya. Saya punya buku cover aslinya di rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah saya malah belom baca bukunya. Kabarnya malah lebih lengkap ya, bukan fiksi macam filmnya ya?

      Delete
  6. Orang Indonesia banget ya kak Tika, kalo syarat cantik harus putih dan juga langsing.

    Mudah-mudahan sih setelah nonton ini banyak yang lebih wise ya.. kalo cantik itu dari innernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penampilan luar tentu saja yang kelihatan pertama kali. Tapi gak melulu putih dan langsing. Setiap perempuan bisa cantik dengan gayanya masing-masing. Alangkah membosankan jika melihat sekelompok cewek yang semuanya mirip, ya kan? Lebih seru kalau tampil beda sesuai gaya masing-masing. Eh atau ini masalah seleran saja ya wkwkwk

      Delete
  7. Aku ga sempet nonton film ini hiks :( Iya ya mencintai diri sendiri itu ternyata ga semudah yg dibicarakan. Memaafkan diri sendiri juga sulit. Jadi gimana dong? hihihihihi.... Masih ada di bioskop ga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mencintai diri sendiri itu gampang kok sebenarnya, mulai dengan tidak membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Sisanya ya, upgrade diri kita, Jaga pola makan dna tidur. Lakukan hal-hal yang sehat buat diri kita sendiri.

      Nah, kalo memaafkan diri sendiri itu memang perlu latihan. Latihan tiap hari agar terbiasa. Semua orang pasti melakukan kesalahan, begitu juga kita. Gakpapa melakukan kesalahan. Jangan diulangi, dan harus semangat mulai lagi!

      Delete

  8. Aku belum nonton filmnya mbak, smoga ajh nanti bisa tayang di tv ya (biasanya gitu)
    Masalah penampilan tuh buat ku no 1, Krn slalu ingat pesen ibu ku, manusia tuh di pandang awalnya dr penampilan. Kl penampilan oke selanjutnya pasti lancar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerrrr,, Ibuku juga selalu bilang. Jadi perempuan harus merawat dirinya, dengan cara itu kita menghargai diri kita. Nancep deh sampai sekarang :)

      Delete
  9. Saya termasuk penasaran yg belum nonton film imprefect. Tapi belum sempet terus waktunya. Jadi penasaran mau nonton deh. Tapi lihat reviewnya ikutan gemes juga ya. Usia 27 tahun belum paham soal kecantikan. Yes cantik bukan berarti make up menor dll, tapi tampil bersih dan rapih. Duuh bener deh mau nonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha monmaap ya jadi julid. Abis gemes sih, kalo liat yang berantakan begitu. Pengennya kusisir rambutnya yang rapih. Lalu bajunya aku suruh ganti yang warna-warna cerah biar gak males bawaannya wkwkwk

      Delete
  10. Imperfect menjadi film indonesia paling laris di awal tahun 2020, namun dsygkn saya belum nonton zzz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kabarnya sih begitu ya, bagus sih memang, ayokkk nontonnn

      Delete
  11. Setuju, ini film yang bagus
    Jika penampilan Rara tampak lebay, mungkin untuk menunjukkan garis hitam putihnya

    ReplyDelete
  12. Kurus dan putih ya, Mbak? Aku kurus dan eksotis terus, piye? Wkwkwk ...

    Belum nonton Imperfect, tapi dulu pernah membaca bukunya dan aku suka. Well, betul juga sih bahwa usia 27 tahun mestinya seseorang sudah bisa menyesuaikan gaya berpakaian dia apalagi kalau berada di lingkungan kerja. Kalau lingkungan kerja di kantor sendiri nggak bisa mempengaruhi kita, pertemuan dengan klien itu sangat mempengaruhi. Buatku sih begitu.

    Eh tapi aku pernah lho, dikritik sama bos laki-laki gara-gara ikutan meeting sama dia ke kantor klien dan menurutnya tas aku kurang formal. Yah, namanya juga anak baru. Uangnya belum cukup beli barang yang bagus-bagus, hahaha ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah bos cowok tapi perhatian soal tas ya, keren juga hahaha, bisa diajak juga yuh pas belanja, biar jadi advisor wkwkwk

      Delete
  13. Not agree more.
    Sepakat aku sama Mbak Tika, usia segitu sih aku pun sdh punya gaya dan ciri khas sendiri dlm berpenampilan termasuk sdh tahu bagaimana menempatkan diri. Karena berbusana dg baik, for me not abt how others to value tapi lbh pada emang membuat aku merasa lebih baik.

    Ada kalanya aku lagi down, maka aku ke salon dan belanja baju yang baru lalu menikmati waktu dengan berdandan lbh dari biasanya, ini kulakukan sampai skrg meski ada anak..meski perginya skrg sama anak.

    Pun profesionalisme, kalau orang melihatku karena penampilan hm... Mending aku out apalgi kalau aku mampu tp diremehin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu sih mbak maksudku. Di film kan seolah2 diskriminasi itu hal biasa. Ya mungkin memang biasa terjadi ya, tapi kita boleh lho stand up dan speak up about this.

      Tapi jujur sih, orang Indonesia memang paling rasis dan diskriminasi, bahkan dengan kita sebangsa, sesama Indonesia. Pengalamanku bekerja dengan bule, mereka malah gak pedulikan soal penampilan, entah itu rambut, hijab, pakaian, yang penting mah kualitas kerjanya.

      Delete
  14. Beberapa kali baca review film ini, keliatan kalau filmnya bagus apalagi tema yang diangkat terkait "nilai kecantikan di mata orang pada umunnya" termasuk berkaitan dengan body maupun penampilan perempuan yang biasa jadi bahan perhatian. Saya jadi penasaran dengan film ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, body shaming kan memang lagi ngetrend sekarang hehehe, mungkin dari dulu sih ya, istilahnya saja yang baru muncul sekarang. Sudah waktunya sih disuarakan biar sejak dini anak2 juga belajar bahwa body shaming itu gak baik

      Delete
  15. Bagaimanapun penampilan sangat dilihat oleh masyarakat kita, yang masih dan selalu betah tinggal di Indonesia.

    Orang dihargai dari penampilannya. Mungkin karena berpikir berpakaian bagus berarti menghargai diri sendiri. Tapi bagaimana jika kesanggupannya membeli baju tiap tahun sekali?
    Karena, memakai baju apa adanya tanpa kredit adalah cara menghargai diri sendiri juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya bukan masalah baju baru atau lama, baju bagus atau jelek. Tapi bagaimana menempatkan diri kita sesuai kondisi dan tempat. Berpakaian rapi dan tampil bersih adalah kunci penampilan kita. Termasuk didalamnya kebersihan rambut, kuku, sepatu, dan banyak atribut lain pendukung penampilan kita.

      Delete
  16. Ini good sih topiknya film Imperfect, gimana kita harus punya konsep diri yang kuat. Karena ga ada satu pun yang sempurna sih di dunia ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kita harus tahu kelebihan kita, fokus di kelebihan saja, kekurangan mah akan ditutupi oleh pasangan #eh

      Delete
  17. Saya sih termasuk yang setuju kalau penampilan juga hal penting yang mesti diperhatikan selain kualitas dan kemampuan seseorang. Namun, saya amat sangat tidak setuju dengan diskriminasi dan bullying serta body shaming, apapun alasannya.

    ReplyDelete
  18. Penampilan sangat penting, karena untuk pembranding diri kita, apalagi ketika bertemu klien, harus diperhatikan penampilan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, salah satu tanda kita menghargai diri kita

      Delete

Post a Comment

what do you think? :)

Popular posts from this blog

Parasite (2019), Film Terbaik Pemenang Oscar 2020

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?