Nyore di kota Malang: Pesiar, Olahraga, dan Kulineran

Suatu sore di kota Malang, sumber: instagram.com/sellypadi

Jam 2 siang.

Siang itu keperluanku di kota Malang sudah selesai. Dari TKP, aku langsung menuju Stasiun Malang Kota Baru. Kulihat jadwal kereta pulangku masih 3,5 jam lagi. Hmm, enaknya ngapain ya?

Yang kuingat, Kota Malang adalah kota yang cukup ramah untuk dilalui dengan berjalan kaki. Kotanya tidak terlalu luas, jalannya tidak terlalu besar dan ramai. Dan yang paling penting, gak panas!

Rasanya jalan santai sore-sore bakal seru. Untungnya barang bawaanku gak banyak, cuma ransel sebiji. Alas kaki pakai sneakers, nyaman buat jalan kaki. Waktunya juga masih cukup banget, gak perlu terburu-buru.

Baiklah, mari kita mulai petualangan sore ini.

Dari stasiun aku langsung belok kiri menuju Bakso Stasiun Pak Dulmanan. Hore... warungnya buka! 


Baca juga: Mulai Olahraga Jalan Kaki Lagi


 

Bakso Stasiun Pak Dulmanan


sumber: google.com


Gak afdol kalau gak makan oskab Ngalam!

Salah satu bakso legendaris di kota Malang, yang lebih dikenal dengan nama singkat Bakso Stasiun. Dengan posisinya yang strategis, hanya berjarak kurleb 140 meter di kiri stasiun, bakso ini menjadi salah satu jujugan kuliner bakso buat warga maupun wisatawan di kota Malang. Dengan berjalan kaki, kurang lebih dapat ditempuh hanya dalam waktu 2 menit saja.


rute dari Stasiun Malang Kota Baru ke ke Bakso Stasiun


Keistimewaan bakso ini adalah punya gorengan yang isiannya rebung. Enak banget! Gorengannya berbentuk bulat, kranci diluar. Begitu digigit, tersembullah irisan rebung yang masih bertekstur (tidak lembek) namun lembut dan gurih. Super love it! Aku belum pernah menemukan gorengan macam begini di tempat lain. Jadi pasti selalu pengen kembali ke sini demi si gorengan rebung ini πŸ˜ƒ


versi lengkap Bakso Stasiun, sebelah kiri gorengan rebungnya, sumber: google.com


Aku beruntung, masih kebagian gorengannya. Fyi, kalau terlalu sore ke sini, biasanya gorengan rebung sudah habis duluan. Pernah sih aku bertanya, kok gak bikin yang buanyak sekalian. Jawabnya, bikin berapapun pasti habis. Hahaha baiklah, jadi hukum rimba berlaku di sini. Siapa cepat dia dapat.

Makan bakso kali itu benar-benar kunikmati dengan khidmat. Entah kapan bisa kembali ke sini lagi. Dan benar saja, tidak lama setelahnya corona melanda. Dan sampai hari ini aku belum bisa kembali lagi ke sana πŸ˜“

Duh, kangen berat! Tapi gpp, kangennya tersalurkan jadi konten ini, hahaha.

Setelah puas kangen-kangenan dengan si gorengan rebung, aku melanjutkan perjalanan.

 

Kampung Warna Warni Jodipan dan Kampung Biru Arema


rute dari Bakso Stasiun ke Kampung Warna Warni


Kedua kampung ini hanya berjarak kurleb 600 meter dari Bakso Stasiun Pak Dulmanan. Dengan waktu tempuh sekitar 7 menit, menyenangkan juga jalan sore menyusuri Jalan Trunojoyo lalu belok kanan ke Jalan Gatot Subroto. Lalu lintas cukup ramai sih, dan harus menyeberang satu kali. Waspada dan tetap harus berhati-hati ya.

Tips jalan kaki dari aku sih, berjalanlah di sisi yang melawan arus kendaraan. Jadi kita relatif lebih siap dengan apa yang ada di depan kita. Buat berjaga-jaga saja. Kadang khawatir juga dengan ancaman kesenggol dan disenggol pengguna jalan lain. Alhamdulillah, perjalanan kemarin tiada hambatan dan gangguan.

Kedua kampung ini terletak di dua sisi -kiri dan kanan- jika dilihat dari atas jembatan di Jalan Gatot Subroto. Di sisi kanan jembatan, ada Kampung Biru Arema. Semuanya berwarna biru. Gemas deh. Di sisi kiri jembatan tampak warna-warninya kampung Jodipan. Gak kalah nggemesin juga. Unyu-unyu.


di sisi kanan Kampung Biru Arema, di sisi kiri Kampung Warna Warni Jodipan, sumber: idntimes.com

Karena sudah pernah kesini sebelumnya, aku gak mampir turun ke bawah lagi. Lagian percuma juga, cuma jalan sendirian, gak punya akang fotografer buat edisi OOTD hahaha.

Lanjut yaaa ke destinasi selanjutnya...

 

Alun-alun Kota Malang

Melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Kota, aku memilih melewati Jalan Ahmad Dahlan dan Jalan Agus Salim. Kenapa? Karena lebih banyak yang bisa dilihat, hehehe.


rute dari Kampung Warna Warni ke Alun-alun Kota Malang


Jaraknya sekitar 950 meter, dan ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 12 menit saja. Di jalan ini bisa makan di Rawon Nguling, atau bisa lifestyle juga di Mandala 21 atau Gajah Mada Plasa. Berhubung aku masih kenyang dan sibuk mau jalan sore, aku tancap gas kaki langsung ke Alun-alun Kota.

Sampai di Alun-alun, pas masuk waktunya salat Asar. Aku segera ke Masjid Jami' Malang yang terletak persis di depan Alun-alun Kota. 


Masjid Jami' Malang, sumber: kontraktorkubahmasjid.com

Masjid ini menjadi salah satu ikon kota yang bisa dikunjungi di sekitaran alun-alun. Selain Masjid Jami’, ada juga Titik Nol Km Kota Malang. 


Titik Nol Km Malang, sumber: tribunnews.com


Di alun-alun aku berpiknik ria. Duduk di salah satu sudut, membuka bekal gorengan isi rebung yang kubeli di Bakso Stasiun tadi. Hehehe gak mau rugi banget yak, udah makan di tempat, masih juga mbontot. Tidak lupa aku membeli satu gelas es puter yang jadul tapi kekinian itu, sambil menonton burung-burung dara yang dikejar oleh anak-anak.


banyak burung dara di Alun-alun, sumber: photomalang.com

es puter jadul yang kekinian, sumber: facebook.com/kokobuncit


Kurang 1,5 jam lagi.

Oke, waktunya melanjutkan perjalanan. Soalnya masih ada satu lagi agenda kuliner sebelum pulang ke Sidoarjo. Makan lagi??!! Hahaha, makan bakso tadi kan cuma appetizer πŸ˜… 

 

Alun-alun Tugu Malang

Dari Alun-alun Kota kita akan melewati Toko Oen yang legendaris itu. Karena masih kenyang, dengan terpaksa kulewati saja. Kapan-kapan deh mampir makan banana splitnya *nelenludah*


Toko Oen Malang, sumber: tribunnews.com


Setelah melewati Toko Oen, aku masuk ke Jalan Majapahit, jalan yang rindang dengan pepohonan. Enak banget jalan-jalan sore kali ini. Karena mulai sore, anginnya berasa adem menusuk tapi segar. Jadi nyesel tadi gak bawa jaket, huhuhu.


rute dari Alun-alun Kota ke Alun-alun Tugu


Dalam waktu 9 menit jalan kaki, di ujung Jalan Majapahit tampak Alun-alun Tugu. Berbeda dengan Alun-alun Kota, Alun-alun Tugu ini berbentuk bundar –banyak juga yang menyebutnya Alun-alun Bunder- dan dikelilingi oleh kolam teratai yang cantiik ketika berbunga. Alun-alun Tugu terletak di depan Balai Kota Malang.


Alun-alun Tugu Malang, sumber: pegipegi.com


Cangtip ya!

Di sore hari seperti begini, enak banget duduk-duduk di Alun-alun Tugu. Kalau siang cukup terik sih, karena tidak ada pepohonan yang melindungi pengunjung.

Aku lanjut lagi, menuju destinasi terakhir, kulinerannn!!!


Baca juga: Sarapan Bubur Nasi dan Mie Rebus Jaman Dulu


 

Bakso Cwi Mie Edan


rute Alun-alun Tugu ke Bakso Cwi Mie Edan


Di ujung jalan Gajah Mada, ada langganan cwi mie kesayangan. Mumpung di sini, mampir dong. Cukup jalan kaki sekitar 450 meter. Pulangnya nanti langsung ke Stasiun Malang Kota Baru, cuma jalan 200 meter. Deket banget kan!

Nama warungnya Bakso Cwi Mie Edan. Edan karena ada pilihan level pedasnya, mulai level waras sampai dengan level edan-edanan. Setiap naik 1 level artinya nambah 1 sendok sambal.


menu Bakso Cwi Mie Edan Malang, sumber : google.com


Sebagai penyuka pedas garis lembut, biasanya aku pilih level ½ edan. 1 sendok sambal saja. Level ini  sudah cukup pedas buatku, masih nyaman dimakan, ramah lingkungan, dan tidak menimbulkan efek samping berkepanjangan.


Cwi  Mie beserta partner kuahnya. Bisa dipilih mau siomay, tahu, atau pentol baso, sumber: google.com


 Alhamdulillah, kenyanggg hahaha πŸ˜„ Tepat 20 menit sebelum kereta datang, aku sudah sampai lagi di Stasiun Malang Kota Baru. Yeyy, gak telat!

Seru juga kan jalan-jalan sore di Kota Malang. Jaraknya dekat-dekat dan gak pakai ongkos, sekalian olahraga hihihi. Waktu juga dihabiskan dengan lebih bermanfaat daripada bengong aja di ruang tunggu stasiun.

Adakah teman-teman yang punya pengalaman receh jalan-jalan sore di kota lain? Cerita dong di kolom komentar πŸ˜‡

Comments

  1. Setiap kali ke Malang kayaknya tempat-tempat tadi nggak aku datangin deh, wkakakaaka..
    Alun-alun lewat doang, itupun jarang lewat daerah alun-alun. Kebanyakan kalau ke Malang mampir ke Jl. Soekarno-Hatta, soalnya makanan favoritku ada di sana. Tapi sekarang udah buka di Jl. Sigura-gura, akhirnya nggak usah jauh-jauh lagi deh.
    Selebihnya nge gofud. Bukannya apa-apa sih, Malang makin lama makin ramai dan macet jalanannya. Mon maap nih, tua di jalan ntar. Mending di kos an adekku, adem, order go fud, tinggal makan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ini curhat dari seorang pendatang yang gak punya tempat buat ngadem mbak, jadinya gitu deh mbambung (baca: gak jelas) di jalan dengan alibi pesiar, olahraga, dan kulineran 🀣🀣🀣

      Delete
  2. Cerita jln2nya asyik dan keren mbak. Mantaap. Jd kangen Malang. Terakhir ke Malang 2 tahun yg lalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, terima kasih ya Mas, sudah membaca ^o^
      Malang memang ngangenin, Mas. Itulah sebabnya artikel ini bisa terlahir hihihi

      Delete
  3. dalam waktu 3.5 jam tapi bisa ke tempat2 keren gitu rasanya nggak nyesel ya. Kemarin pas ke Malang bareng suami dan anak malah ngerasanya nggak bebas. Cuma jadinya main ke rumah temen aja sma nongkrong lama di mall gegara suami ketemu sama temennya. huhu. kesel sih.

    Ternyata emang bnyk bgt tempat rekomendasi asyik di malang nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Ghina, waktu memang relatif ya. Tadinya 3,5 jam kok terasa mepet tapi ya sudah lah dicoba aja. Ehh ternyata cukup banget karena jaraknya emang dekat2. Nah kalau waktunya dibuat menunggu aja, baru deh terasa sangat lama πŸ™‚

      Delete
  4. Sampe skr mah penasaran Ama rasa cwimie. Pas ke malang dulu ga kesampaian nyobain Krn waktu. Duuuh enak bangett kayaknya iniiiiiii :D. Aku juga ga terlalu mau yg pedes banget, apalagi mau lanjut perjalanan. Ga kebayaaaang sakit perut tengah perjalanan mbaaa hahahhaha. Aku pernah, pas balik dr Jogja, malamnya makan oseng mercon, paginya sukses sakit perut di bandara, ya Allah kapoook :p.

    Kalo ke malang hrs aku masukin nih cuimie nyaa. Ama bakso jugaaaa. Blm pernah nyobain yg isi rebung. Lgs kebayang kayak lumpia kalo udh denger rebung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai pecinta olahan segala mie, cwimie jadi satu favorit aku mbak. Pangsit goreng dan suwir ayamnya gak pelit, mienya lembut, aduh duh jadi pengen lagi.

      Aku malah pernah makan cwi mie itu ada pangsit gorengnya segede gaban yang dijadikan mangkuk mie nya. Itu uenak bangettt. Sebenarnya yg kurekom ini bukan cwi mie legenda di Malang. Tapi krn lokasi dkt dg stasiun dan aku suka rasanya, mbaknya juga baik, jadilah kurekom di artikel ini. Semoga mbak Fanny segera bisa mencoba cwi mie yaaa 🀀🀀🀀

      Delete
  5. Saya pernah ke Malang, mbak. Tapi skrng nyesel, kenapa waktu itu ga makan bakso malang. Yang saya cuma makan adalah Apel Malang hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ya boleh lah sebagai pembuka. Semoga kali lain ada kesempatan ke Malang lagi yaaa Mas, dan jangan lupa oskab ngalamnya!

      Delete
    2. Kok jd oskab ngalam sih, mbak.. hahaha

      Delete
    3. Bakso Malang maksudnya. Bahasa terbalik khas kota Malang 🀠

      Delete
  6. Baca ini jadi kangen Malang. Dulu aku sering ke Malang gara-gara anakku sekolah disana. Malang banyak tempat kuliner yang enak. Aku pernah kulineran dekat stasiun itu makan rawon.

    ReplyDelete

Post a Comment

Halo, terima kasih sudah membaca. Tinggalkan komentar ya, biar aku bisa balas BW 😊

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?

Kecombrang, Pemilik Aroma Segar Dan Rasa Khas Dari Hutan Indonesia