Posts

Showing posts from December, 2020

[REVIEW BUKU] Goodbye, Things by Fumio Sasaki

Image
  Hai hai hai... Apa kabar teman-teman semua? Meskipun berlibur di rumah saja, yang penting kita semua selalu sehat dan masih berkumpul bersama keluarga ya 😊😊😊 Sebagai penutup akhir tahun, aku mau pamer hahaha. Akhirnya aku bisa menyelesaikan bukunya Fumio Sasaki yang berjudul Goodbye, Things . Karena bukunya pinjam di Ipusnas, 3 hari nggak selesai ditarik sama sistem, mau pinjam lagi harus antri lagi, akhirnya total bisa menyelesaikan buku ini ada sebulan kali 😋😋😋 Eniwei, aku sangat tertarik dengan gaya hidup minimalis. Sempat kubahas juga beberapa kali soal ini di blog. Mencoba menyortir barang, menyederhanakan koleksi, mengubah cara belanja, dan cara menyimpan barang. Tentu saja kalau mengaku-aku sudah jadi minimalist belum berani sih, tapi pengen banget jadi salah satunya. Baca juga: Minimalism, Are you in? Seperti dibahas di bukunya, Fumio mengatakan bahwa tidak ada standar harus seperti apa menjadi minimalist itu. Semua dikembalikan ke diri kita masing-masing, ke ke

2020, One of My Best Year

Image
    Seperti biasa, memasuki bulan Desember artinya memasuki masa-masa kegalauan. Menjelang akhir tahun membuatku mengingat apa saja yang sudah aku kerjakan tahun ini. Tentunya corona bisa jadi alasan utama kenapa banyak rencana di tahun ini tertunda, bahkan dibatalkan. Banyak alasan untuk mengeluh di tahun ini. Banyak sekali. Tapi melihat kembali daftar resolusi yang kubuat di akhir tahun 2019 kemarin, ya ampun, aku sungguh tersenyum membacanya. Banyak sekai hal-hal baru yang kudapatkan di tahun ini, yang tidak ada di dalam daftar resolusiku. Meski banyak sekali yang bisa dikeluhkan, sesungguhnya lebih banyak lagi yang bisa kusyukuri 😊😊😊   Lebih dekat dengan orang tua Karena corona hampir semua aktivitas di luar rumah berkurang. Tadinya aku kerja dari pagi sampai sore, baru bertemu dengan orang tua di malam hari. Belum lagi di akhir minggu ada acara traveling bersama kawan. Praktis beraktivitas bersama orang tua minim sekali. Semenjak “everything from home”, kami semu

Pillow Talk

Image
“Ibu, boleh ya? Ijinkan aku kali ini saja. Tidak akan ada kali lain. Ini kesempatanku satu-satunya.” Ibu masih diam tak bergeming. Entah beliau sengaja tidak mau mendengar, atau sengaja sibuk dengan pikirannya. Ibu memang selalu seperti itu. Jarang melarangku, namun ketika beliau tidak suka, akan ditunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. Tapi tetap, tidak ada kata jangan. Tapi aku tahu dari raut wajahnya. Bagaimana tidak, seumur hidupku aku mengenal dia. “Aku janji, ini permintaan terakhirku. Ini akan jadi pengalaman yang hebat buat aku, Bu! Tidak semua orang memiliki keberuntungan seperti ini.” Beliau tahu benar sifatku. Aku tidak bisa dilarang. Kalau keinginanku sudah bulat, aku harus mendapatkannya. Harus. Tidak bisa tidak. Tapi beliau juga tahu, aku belum berani menentangnya. Aku percaya restu Ibu nomor satu. Dan saat ini, aku sangat membutuhkan kata ya darinya. “Aku akan tunjukkan pada Ibu. Aku akan membuat Ibu bangga kali ini. Ibu percaya deh sama aku. Boleh ya

Yang Baru di #kartikatur

Image
instagram.com/sellypadi Mulai bulan Desember ini, aku membuat satu label baru di blog #kartikatur. Nama labelnya #tuturfiksi karena sedang mencoba menantang diri sendiri untuk belajar menulis fiksi. Sebenarnya sejak dulu sudah suka baca cerita fiksi. Dulu waktu abege sempat suka juga bikin cerpen sih, apalagi kalau habis patah hati 😆😆😆 Semenjak ngeblog sering ketemu beberapa teman blogger yang konsisten menulis (katanya) fiksi di blognya. Sebut saja Bunga, eh maksudnya Mas Agus dan Mas Dodo , yang aku nikmati betul membaca cerpen-cerpennya. Nah, beberapa bulan lalu aku sempat mengikuti sesi di WAG untuk bedah buku. Menarik sekali mendengar pengalaman para novelis dan cerpenis yang bercerita tentang pengalaman mereka menulis cerita fiksi. Ada banyak banget tips dari mereka yang menurutku bisa diterapkan buatku pribadi. Aku jadi ingin mencoba lagi. Jujur selama ini aku sedikit malas menulis fiksi karena merasa tidak mampu. Aku merasa sulit menulis cerita fiksi, karena buatku be