Bukan cuma Buat Komoditi di Televisi, Air Mata Memang Bisa Jadi Solusi Buat Banyak Hal

pexels.com/burakkostak


Membaca banyak artikel mengenai tren acara televisi maupun konten di Youtube yang menganggap air mata sebagai komoditi, saya jadi menyadari bahwa pada kenyataannya, air mata memang bisa menjadi solusi buat banyak hal. Banyak keajaiban terjadi dengan bantuan air mata.

Contoh pertama nih, modus promosi jualan di twitter. Mulai dari jualan produk seperti kue kering, dan masakan rumahan, atau jualan jasa seperti karikatur komik dan edit video. Dengan mengedepankan kondisi yang sedang kurang beruntung, misalnya baru di PHK, atau sedang sakit keras, pokoknya yang mengundang rasa iba, baru setelahnya para penjual ini mempromosikan produk atau jasa yang dijualnya. Dengan harapan, kondisi yang disebutkan di awal bisa mengetuk hati para pemirsa tuips untuk membeli produk atau jasanya. Seperrtinya sukses, sih.

Gak bisa nyalahin juga sih, mungkin sebagai pengusaha rintisan baru, mereka belum punya testimoni dari pelanggan, yekan? Apalagi buat membayar selebtwit buat endorsement. Ya kali udah punya budget buat promosi, wong produk atau jasanya saja belum laku dijual.

Sebenarnya boleh-boleh saja sih, namanya juga strategi promosi. Tapi mestinya jangan dijadikan kebiasaan dong ya. Maksudnya gini. Kita kan lagi jualan produk atau jasa. Kita percaya diri dong bahwa produk dan jasa yang kita miliki kualitasnya bagus. Dengan harga sekian yang sesuai dengan kualitas produk atas jasa yang kita tawarkan, harusnya kita bisa dengan bangga bilang bahwa produk atau jasa kita memang bagus lho. Tunjukkan dengan foto yang menarik, atau promo diskon di pembelian pertama, atau apalah. Kan anak twitter kreatif-kreatif gitu! Jangan cuma modal jual kisah sedih saja deh, malu sama kocheng oren yang jualannya pake modal kisah nakalnya, miauw~

Contoh kedua, yang lagi ngehits belakangan, klarifikasi dengan embel-embel air mata. Sebenarnya bukan hal baru juga sih ya. Mulai dari artis yang tertangkap basah selingkuh atau karena narkoba, pejabat yang salah bicara, anak SMA yang lulus mencoret-coret bajunya, atau yang terakhir, influencer yang mengaku seorang introvert, juga menggunakan air mata di event klarifikasi untuk mengungkapkan penyesalannya. Harapannya air mata ini bisa “menutup” kesalahan yang telah dilakukan, mengundang rasa iba, dan khalayak akan memaafkan.

Kesannya jadi gampangan banget gitu. Minta maaf, nangis, masalah beres. Bodo amat dengan keabsurdan yang telah mereka lakukan. Yang penting sudah nangis!


Baca juga: Woi, Ini New Normal, Bukan Back to Normal!


Tapi gak semuanya melulu hal buruk sih, sebenarnya ada juga sisi positifnya dari air mata ini. Dari “menjual”  kesedihan kita bisa memberikan efek positif buat hal yang lebih besar dan dampak yang lebih luas. Seperti penggalangan dana atau donasi yang acap kali diadakan. Dengan ilustrasi yang berkisah dengan aksesoris air mata, biasanya target dana bisa lebih mudah tercapai, dan yang paling penting, manfaatnya memang sampai ke orang yang tepat.

Dan ini bukan cuma terjadi di level elit nasional saja, orang biasa macam kawan saya juga punya pengalaman soal air mata ini. Suatu hari doi naik motor berboncengan dengan sang ibunda. Biasa lah, motor kawula muda sukanya cuma pakai spion sebelah aja, sebelah kiri pula. Entah apa misi hidupnya~

Apesnya hari itu, saat berhenti di lampu merah doi didekati oleh polisi dan diajak untuk melipir karena alasan spionnya itu. Tentu saja sang ibunda juga ikut digelandang ke pos polisi yang biasanya ada di pojokan itu.   

Singkat cerita, doi dinyatakan salah dan polisi akan menilangnya. Dengan kekuatan bulan super power emak-emak, sang ibunda memohon Pak Polisi agar supaya anaknya dimaafkan, jangan ditilang. Beliau juga berjanji untuk langsung menyuruh anaknya untuk memasang spion yang sebelah kanan agar lengkap dan sesuai aturan. Sang ibunda mengiba dengan sungguh-sungguh dan mulai meneteskan air mata.

Tak disangka, tak dinyana, Pak Polisi membebaskan kawan saya ini, tanpa tilangan. Beliau cuma berkata, “Bu, jangan menangis, saya jadi ingat ibu saya di kampung. Janji ya Bu, dipasang spionnya biar aman berkendara.” Mereka pun pulang dengan selamat.

Betul kan, air mata memang manjur~

Comments

  1. iya air mata memang manjur mbak
    dan sudah jadi komoditas untuk membuat seseorang iba
    asal jangan sampai air mata buaya aja ya

    eh hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah wah wah, ini pasti buaya betina ya #eh

      Delete
  2. Wahaha, luar biasa akhir ceritanya. Ternyata kekuatan air mata bisa meluluhkan bapak polisi :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah bang kisah bahagianya. Kadang kalau sudah berhubungan dengan air mata Ibu, susah untuk menolaknya 😌😌

      Delete
  3. Saya paling sebel kalo nonton acara pencarian bakat trs pada jual kesedihan gt. Gak gini jg kalo mau naikin rating TV. Trus di twitter pun pada do your magic, awalnya sy turut sedih, tp kok ya lama2 ketauan ya kalo banyak jg yang bohong. Jadi yang awalnya respek jd emosi liatnya 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. gemes kan ya, lama2 bikin eneg juga. kita jualan karya saja deh, gak usah pakai embel2 memelas, bair bangga juga sama diri sendiri :)

      Delete
  4. Pak polisi jadi ingat ibunya di kampung ya, hmmm... saya pun rasanya begitu, luluh bila ada yang berimata di depanku, hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Bang, kalau ibu yang nangis memang bikin gak tega sih, jadi merasa bersalah banget

      Delete
  5. aku juga kemakan marketing yg iba2 begini niiihhh
    sengaja beli produknya karena merasa kasian pada yang jual.. tapi sebel juga y klo malah dimanfaatin gitu yaa kalo misalnya dia bohong gitu cuma buat dapet duit aj. Cem2 pengemis yang pura2 buntung kakinya supaya dapet duit sedekah lebih gede

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh nyebelin banget kalo yang sengaja bohong buat keuntungannya sendiri, terus kita tahu hahaha makin menyebalkan, jadi gak ikhlas. makanya kadang aku suka gak ikhlas nolongin orang yang cuma bisa minta2, mendingan aku tambahin ke orang-orang yang susah2 jualan.

      Delete
    2. iyaa jadi ga ikhlas ngasihnya juga hahaha... Yes setuju. Mending kasih lebih ke yang susah-susah jualan dah daripada yang cuma minta doang

      Delete
    3. iya kak, semoga kita diberi kesehatan dan dihindarkan untuk meminta-minta. mending kerja keras saja selagi muda! ;)

      Delete

Post a Comment

Halo, terima kasih sudah membaca. Tinggalkan komentar ya, biar aku bisa balas BW 😊

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?

Kecombrang, Pemilik Aroma Segar Dan Rasa Khas Dari Hutan Indonesia