Kim Ji-young adalah kita, dari Kim Ji-young, Born 1982 --- Spoiler Alert!


https://tirto.id/

Kim Ji-young, seorang ibu rumah tangga usia 30an, dengan satu anak balita. Tinggal di sebuah apartemen kelas menengah, kesehariannya mengurus suami, anak, dan rumahnya. Suaminya bukanlah laki-laki yang cuek dan tidak mau tahu dengan urusan anak dan rumah tangga. Justru diceritakan suaminya sangat membantu dan pengertian dengan pulang cepat dari kantor.

Itulah gambaran yang aku dapat selama 10 menit pertama film. Singkatnya, di permukaan, hidupnya tidak ada masalah. Masalah ekonomi tidak ada. Kekerasan dalam rumah tangga juga tidak ada, suaminya malah kelihatan sayang banget dengannya. Anaknya sehat, tidak kurang suatu apa.
Tapi yang tampak nyata adalah, Ji-young terlihat kelelahan, dan tidak bahagia. 

https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film


Ada apa dengan Kim Ji-young?

Di sepanjang film, dijelaskan latar belakang kehidupan Kim Ji-young. Masa kecilnya, interaksi di keluarganya, karir profesionalnya, dan yang terkini, hubungannya dengan suami dan keluarga mertuanya.

Yang dapat aku simpulkan adalah Kim Ji-young merasa dirinya bukan siapa-siapa. Tidak berprestasi, juga tidak berpenghasilan. Merasa hanya seorang perempuan, yang mengurus anak dan rumah tangga, secara finansial bergantung pada suami, menurut apa kata suami dan mertuanya. Singkatnya, dia merasa tidak berdaya.

Aku ingat sepotong adegan di taman, ketika Kim Ji-young sedang bersantai minum kopi, menemani anaknya. Dia menjadi sangat gusar mendengar sekelompok pekerja kantoran yang julid tentang ibu rumah tangga yang enak-enakan menghabiskan uang suaminya. Hanya mendengar itu saja, bahkan bukan tentang dirinya, Kim Ji-young bergegas meninggalkan taman itu.


Apakah salah menjadi ibu rumah tangga dan bergantung pada suami?

Tentu saja tidak. Menurut aku pribadi, menjadi ibu rumah tangga, fokus mengurus anak tanpa harus pusing bekerja menghasilkan pendapatan tambahan, adalah sebuah privilese. Hak istimewa. Kenyataannya di luar sana, sebagian ibu bekerja bukan karena mengejar passionnya, tapi lebih ke kebutuhan hidup.

Masalah mungkin akan muncul ketika si Ibu sudah terbiasa bekerja di masa lajangnya. Tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan, tidak lagi berpenghasilan, lebih-lebih harus minta sama suami. Kaget dengan keadaan yang baru.

Atau kaget karena kehidupannya hanya berputar di mengurus anak, suami, dan rumah. Menjadi orang pertama yang bangun di pagi hari, mungkin yang terakhir tidur di akhir hari. Pekerjaan di rumah yang 24/7, tanpa batasan jam kerja. Bahkan untuk me time pun jarang bisa didapatkan.  

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/

Atau suami yang tidak diragukan kebaikan hati dan cintanya pada istri, namun sepulang kerja lupa mengajak ngobrol istrinya. Beliau lupa bahwa istrinya, seorang perempuan  yang punya misi bicara 20 ribu kata dalam sehari. Kalau misi ini gagal, bisa gelisah dan tak tentu arah. 
Kejadian Ini aku tahu karena seorang sahabat pernah mengeluh padaku. “Aku butuh ngobrol dengan orang dewasa. Temanku di rumah cuma anakku yang masih balita.” Sedih banget dengernya πŸ˜“


Kebutuhan dihargai dan diakui

Banyak orang mungkin meremehkan perihal ketidakberadaan, atau non eksistensi. Perasaan merasa kurang dianggap atau kurang dihargai, karena kurangnya pengakuan dari pihak eksternal.

Dalam Teori Kebutuhan Maslow (Hierarchy of Needs), kebutuhan akan pengakuan dan penghargaan ada, setelah kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, dan kebutuhan dicintai sudah terpenuhi. 
http://www.21stcentech.com/wp-content/uploads/2011/10/maslow.jpg

Dalam kisah Kim Ji-young, tiga kebutuhan pertama sudah terpenuhi. Karena kebutuhan di bawah sudah terpenuhi, Kim Ji-young mulai berusaha mengisi kebutuhan keempatnya. Tapi dengan statusnya yang sekarang, dia merasa tidak berharga. Saat bertemu dengan teman dari kantor lamanya, ada perasaan iri akan kemajuan karirnya.

Sebagai istri dan ibu, dia sudah merawat dan melayani suami dan anaknya dengan baik. Sebagai anak dan anak menantu, dia sudah mengabdi dengan baik. Namun sebagai seorang perempuan, sebagai dirinya sendiri, Kim Ji-young merasa tidak ada yang prestasi yang bisa dibanggakan.      

Aku pribadi pernah mengalami hal ini. Yaitu ketika resign sebagai pekerja kantoran untuk menjadi pekerja freelance. Kerap kali ketika ditanya pekerjaan dan aku menjawab sebagai freelancer, orang-orang mengangkat alis dan bernada merendahkan. Seolah-olah aku ini bukan bagian dari institusi manapun yang patut dibanggakan. Orang-orang yang bekerja kantoran bisa dengan bangga menyebut nama kantornya yang terkenal sejagad raya, dan voila, levelnya langsung naik deh :D

Hlo kok jadi curhat ya hehehe.. Aku pribadi sempat terusik sih. Ternyata segininya ya, ibaratnya tanpa status institusi, aku jadi dipandang sebelah mata. Tapi semakin kesini, aku sudah tidak terlalu mengindahkan sih, karena memang ini sudah pilihanku. Aku toh tidak ingin diidentikkan dengan pekerjaanku. Aku adalah aku, bukan dimana aku bekerja, barang merk apa yang aku pakai, dst. Tapi kenyataannya adalah, masyarakat kerap kali menilai orang lain dari label-label tersebut.

Kembali ke Kim Ji-young, aku bisa memahami yang dia rasakan. Tapi mungkin karena pengabaian perasaan yang berlarut-larut, berbulan-bulan, Kim Ji-young telah sampai di tahap depresi. Sering berhalusinasi, atau bahasa yang digunakan di filmnya, kerasukan.

Di bagian lain film, diceritakan juga sisi lain dari suaminya, ahjussi Gong Yoo yang menawan 😍😍😍 Bahwa sebagai pasangan, suami Kim Ji-young sangat perhatian, dan telah menyadari perubahan istrinya. Namun tidak semudah itu, karena dia juga kebingungan bagaimana cara memberi tahu istrinya tanpa menyakiti hatinya. Bagaimana memberi tahu keluarga tanpa menyudutkan istrinya. 


Terisak di bioskop

Kuakui aku ini cengeng. Sering banget aku diledekin teman-teman karena menangisi film, tapi levelnya cuma menitikkan air mata ya. Cuma ada 1 film yang sukses membuatku terisak. Bahkan ketika menonton ulang filmnya, aku kembali terisak, judulnya Reign Over Me.  

Film ini adalah film kedua yang sukses membuatku terisak di bioskop. Serius, aku nangis tersedu-sedu di dalam sana. Beberapa kali pula.

Sumpah, bukan aku aja kok. Karena bioskop tidak penuh, di sana sini terdengar suara isak tertahan.

Seperti biasa, keunggulan sinema Korea adalah mengangkat tema besar keluarga. Ngaku deh, kalau sudah bercerita tentang keluarga, gak sedikit dari kita pasti tersentuh kan? 

Selain dekat juga dengan budaya kita, soal diskriminasi, ah masih jamak lah mendengar kisah-kisah ketidakadilan sistem patriarki di lingkungan dekat kita. Tidak melulu hanya di rumah tangga, juga di  karir dan pekerjaan. 

Adegan demi adegan terasa dekat, nyata, dan benar terjadi di kehidupan kita. Semua diceritakan dengan alami, tidak berlebihan. Hubungan Kim Ji-young dengan suaminya. Sikap tunduk dan hormatnya pada mertuanya. Kedekatan dan keakraban di keluarganya juga terasa hangat.

Tidak ada tokoh hitam atau putih di sini. Mertuanya tidak jahat, hanya menjadi seorang Ibu kebanyakan, yang super sayang pada putranya.

Suaminya sangat sayang pada Kim Ji-young dan putrinya. Dia hanya tidak tahu bagaimana caranya menghibur atau mencari jalan keluar terbaik buat istrinya. Dia bahkan datang dulu ke psikiater untuk mengetahui lebih jauh kemungkinan penyakit istrinya. Dia juga sempat curhat ke teman kantornya, meski merahasiakan identitas istrinya. Dia mau mengambil cuti tahunan, demi istrinya bisa kembali bekerja. Dia berusaha, sungguh berusaha.

https://www.viva.co.id/

Ibu Kim Ji-young juga seorang ibu yang berpikiran maju. Meski ayahnya cukup kolot soal laki-laki dan perempuan, Ibunya lah yang selalu membela anak-anaknya, mengingatkan bahwa mimpi seorang anak perempuan juga penting, sepenting mimpi anak laki-laki.

Beruntungnya Kim Ji-young dikelilingi orang-orang yang cukup suportif. Meski di awal tidak ada yang menyadari, namun dengan segala drama yang terjadi, Kim Ji-young segera mendapatkan pertolongan.


Salah satu film keren di 2019

Menonton film ini setelah mendengar banyak berita tentang bunuh diri atau menyakiti anak kandung sendiri, adalah sekali lagi sebuah pengingat bahwa masalah ini tidaklah sesederhana saran netijen untuk berdoa mengingat Tuhan. Ini adalah masalah kita semua. Semua orang, laki-laki atau perempuan bisa mengalaminya.

Bukan masalah kita kurang iman atau tidak dekat dengan Tuhan. Ini adalah masalah tidak terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar seorang manusia. Ketika kebutuhan ini tidak kunjung terpenuhi, adalah naluri kita untuk mengisinya, dengan cara apapun. Kadang bisa menyakiti diri sendiri, atau bahkan menyakiti orang lain.


https://celebrity.okezone.com/read/2019

Imo, salah satu ciri film keren adalah yang bisa membuat aku berpikir sepulangnya dari bioskop. Aku membawa sesuatu untuk pulang. Suatu hal yang bisa kita pikirkan, kita rasakan, mungkin salah satu orang terdekat kita membutuhkan pertolongan. Atau jangan-jangan, diri kita sendiri yang membutuhkan pertolongan tersebut.

Go get help, and you can survive this!


Comments

  1. Udah lama sih gak nonton film2 Korea. Tapi kayaknya menarik nih filmnya. Cuma sayang, sedang berhemat jadi belum ada budget ke bioskop. Nunggu muncul di situs streaming aja jadinya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya kak. Menurut aku bagus banget filmnya buat pengalaman dan pelajaran.

      Delete
  2. salah satu temenku cerita kalo film inimemang baguuus. dan aku jd pengen nonton. sebenernya kasian dengan ibu2 di luar sana yg depresi karena merasa tidak berguna, merasa tidak dpt perhatian dr suami dan keluarga, apalagi tidak ada asisten yg membantu :(.sedih sih itu. dan aku bisa mengerti kenapa dia lama2 bisa jd depresi, dan melampiaskan ke anaknya. walo banyak org yg selalu aja menyalahkan ibunya, tp sbnrnya yg begitu itu ga bisa kita judge seenaknya :(.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, terkadang kita memang tidak dapat membayangkan apa yang dialami orang lain. Apalagi kalau secara mental itu kan sangat pribadi, pengalaman tiap orang pasti akan berbeda.

      Delete
  3. Film ini full informasi yak, kalau mau dibahas ada banyaaaakkkk banget yang penting.
    Saking banyaknya, bisa menguntungkan film, bisa juga malah jadi menjemukan.

    Menguntungkan, karena jadinya related banget dengan banyak orang, khususnya wanita.

    Kalau saya malah lebih fokus kepada penyebab depresinya.
    Sebenarnya, Ji-Young merasa tidak berguna itu hanya karena tuntutan hatinya ingin membahagiakan ibunya kali yak.

    Dia melihat ibunya amat sangat tidak bahagia di masa kecilnya, melihat diskriminasi gender, jadinya sampai dia dewasa pun, dia seolah menolak keadaan.

    Bagus banget sih filmnya, namun butuh diskusi yang lebih, karena takutnya disalah artikan oleh para wanita zaman now :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, itu menunjukkan bahwa betapa kompleksnya ya perihal trauma dan depresi ini. Karena bisa diakibatkan oleh beberapa layer pengalaman di masa kecil, di masa remaja, dan di masa dewasa ya.

      Aku sepakat mbak, banyak banget yg bisa dibahas dari film ini. Aku juga sudah baca lo reviewnya mbak Rey πŸ‘ŒπŸ‘Œ

      Delete
  4. Pengen nonton di bioskop dan menangis di sana soalnya sudah lama tidak lakukan hal demikian.
    Film itu banyak dibahas teman-teman dunia maya saya. Yah, bikin penasaran pengen menontonnya.
    Saya juga merasa bersalah mengandalkan uang hasil keringat suami tetapi mau bagaimana lagi da posisi saya sedang tidak bisa bantu suami seutuhnya. Jadi, lakukan hal yang baik dan bisa dilakukan untuk mengembangkan diri demi kesehatan jiwa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Mungkin mindset yg harus ditanam adalah menjadi ibu rumah tangga bukan akhir segalanya ya. Justru kita bisa punya kesempatan untuk eksplor potensi kita yang lain tho πŸ™‚πŸ™‚ semangat buat buibu yang pilihannya jadi IRT, masih banyak jalan ke Roma 🀠

      Delete
  5. Ceritanya sangat menarik, yang belum banyak mengangkat tema ibu rumah tangga, memang suatu pilihan sebagai istri atau ibu rumah tangga yang hanya dirumah atau mau berkarir, tapi setidaknya walau hanya dirumah, selipkan kegiatan bersosialisasi agar tidak depresi atau bosan dirumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahhh inini, harus lebih eksplor ya peminatan kita apa. Apa yg bisa dikerjakan di sela2 kesibukan di rmh. Karena bagi kita yang kerja kantor pun ada lho hari2 gabut, dimana kerjaan gak banyak dan santai banget. Dan itu gak enak banget kan. Jadi artinya gak melulu masalah IRT aja, masalah semua orang kalau kita nganggur πŸ€ͺ

      Delete
  6. Ya ampun pengen banget dah nonton film ini coz berhubungan dengan realitanya kehidupan ibu-ibu kebanyakan. Tapi inti dari film ini yang kutangka pentingnya eksistensi diri ya mbak. Mesti jadi ibu rumah tangga sebenarnya kita juga butuh pengakuan. Alhamdulillah aku dikenalkan dengan dunia menulis dan blogger. Jadi walaupun jadi IRT bisa tetap berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, dari pengalaman orang lain, kita bisa belajar dan berefleksi diri ya. Yang penting harus tetap semangat dan jangan nyerah deh, pasti ada jalan keluar buat setiap masalah

      Delete
  7. Kok jadi pengin nonton filmnya ya, hehehe. Kalau di Indonesia jadi sinetron yang penuh dengan bentakan mertua, disuruh cerai, dan sebagainya. Baca ulasannya, film ini kayak yang natural banget ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, sayangnya Indonesia belum sampai sini nih gaya berceritanya dalam film. Penokohannya hitam dan putih, dan masalahnya hanya seputar penganiayaan suami-istri, mertua-menantu. Semoga suatu saat bisa lebih kreatif ya dalam story telling nya

      Delete
  8. waw, dalem. kupikir tentang perjuangan yg meledak dan menye2, ternyata perjuangan yang amat dalam, antara suami istri.

    aih berat tontonannya... gak sanggup nangis2 akutuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah mbak mungkin emang aku aja yang mewekan yaa πŸ˜…πŸ˜…

      Delete
  9. akutuh jadi ingin pidato motivasi yang isinya "menulis dan jadilah blogger maka hidup kita sebagai emak - emak terasa lebih bahagia tidak sebatas sumur dapur dan kasur " wkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya mbak, jadi motivator sesama perempuan itu pasti banyak dibutuhkan. Pastinya kita butuh motivasi2 positif biar gak mikir yg negatif aja

      Delete
  10. Aku suka reviewnya mba nih. Terlepas dari pemainnya adalah gong Yoo, mengangkat tema self actualization perempuan juga ngena dan relate bgt ya.

    Aku juga sama kayak mba skrg jadi IRT plus freelancer karena ya harus urus anak dan freelance merupakan jalan terbaik untuk tetap waras dan berpenghasilan walau ga sebanyak gaji kantoran. Akupun kalo ga ada kegiatan lain selain IRT juga bisa stress mba πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yang penting tetap semangat deh. Jangan lupa tujuan awal kita apa. Kemudian bergerak mencari solusi. Karna percaya deh, setiap masalah ada solusinya

      Delete
  11. Ini pemeran favoritky 😍 si ganteng.
    Ya ampun super lengkap sekali review nya mom. Sering sering ya kak bahas drama korea hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe makasih, tapi klo series aku gak kuat mbak komitmen waktu nontonnya sangat panjang. Klo film hayuklah, maksimal 3 jam πŸ€—

      Delete
  12. spoiler banget tapi malah bikin aku pengen nonton, huhuhu. Apalagi ada oppa ahjussi Goblin, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa aku juga ngefans sm ahjussi, tapi gak pengen teralihkan dari topik utama yang ingin aku angkat πŸ˜‹
      Ternyata pesona Gong Yoo tetap ada dan seneng liatnya setelah sekian lama

      Delete
  13. Persis seperti temen aku kak, dia resign karena punya anak. Tapi kemudian curhat karena merasa gak berharga apalagi kalo buka medsos. Liat prestasi kawan2nya, dll.

    Trus aku coba nasehati kalo apa yang ditampakkan orang2 hanya kebahagiaan. Gak ada yang tau kayak mana sesungguhnya kehidupan asli seseorang. Bisa saja ternyata orang itu sedang menyimpan kesedihan atau masalah besar.
    Akhirnya ia mengerti.

    Dan aku juga pernah stuck karena sejak menikah gak kerja plus gak bisa kemana-mana. Syukur sekarang udah punya komunitas positif dan kembali menulis. Jadi bahagia rasanya kalo ada sesuatu yang bisa kita lakuin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian dijak nulis aja kak, kadang nulis itu juga bisa jadi wadah aktualisasi diri lho

      Delete
  14. Kim Ji Young
    Film drama korea terfavorit yang terkadang sukses buat menangis, salah satunya adik perempuan saya.
    Pecinta film drakor yang rela duduk berjam-jam depan laptop saat film diputar.
    Duhhh, lihatnya menangis terkadang terlihat lucu.
    Rekomend nih buat para pecinta drakor yang belum tonton filmnya,pasti suka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeyy ayok nonton ajak adiknya πŸ‘ŒπŸ‘Œ

      Delete
  15. Kim Ji Young ini emang artis korea yang sangat berbakat ya.. Filmnya juga kece dan keren ya kak... Aku belom sempet nonton full semua filmnya dia..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kim Ji-young ini nama peran di filmnya mbak. Kalau nama asli pemerannya Yu-mi Jung

      Delete
  16. Insya Allah hari ini aku mau nonton huhu dah lama pengen nonton ini tapi belum sempat.

    ReplyDelete
  17. Saya banyak menemukan cerita sahabat2 yang resign dr kerjaanya trus (harus) memilih jd ibu rumah tangga full time mom, trus kok akhirnya menjustifikasi bahwa spt dirinyalah yg benar itu. Bahwa yg masih bekerja sepantasnya dikasihani, bukan krn dia suka, tp krn cari duitnya. Sehalus apapun membungkus kisahnya, kenapa ya dari cerita mereka sy masih ketemu perasaan "insecure" nya itu.

    Btw, tfs rekomnya ya Kak Tika,, pingin nonton juga nih,, sesama penyuka nonton trus merasa haru dan tanpa sadar udah berlinangan air mata aja, hehe

    ReplyDelete
  18. Ini film simpel tapi keren dan mendalam bangeeet. Mewakili perasaan wanita IRT yang kadang insecure dengan diri sendiri. Kaya aku dan teman kemarin bahas soal ini. Apalagi kalau suami di kantor termasuk punya jabatan atau selalu dibutuhkan. Itulah pentingnya ibu rumah tangga memberdayakan diri menurutku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mbak. Justru ini waktunya kita untuk explor potensi diri yang lain. Bisa aja menemukan hobi baru yang bisa menghasilkan

      Delete
  19. Dari ulasan Mbak Kartika, film ini sangat menarik. Dan secara cerita, film atau drama korea itu memikat dan sangat natural. Dalam kasus Kim Ji Young, sebenarnya masalah itu dia yang ciptakan sendiri, dan seharusnya dia yang segera cepat mengatasi atau mencari solusinya. hanya dia terlalur berlarut-larut dan akhirnya menyiksa dia sendiri.

    Bisa juga sih, sebagai orang terdekat, suaminya bisa membantu. Pastinya dia tahu dan merasakan apa yang dialami istrinya. Bicara dari hati ke hati, bisa mengatasi masalah. Apalagi faktor lainnya sudah didapatkan oleh Kim Ji Young. Tapi tetap semua tergantung Kim Ji Young. Karena dia yang lebih mengenal dirinya, termasuk potensi apa yang dia miliki yang bisa mengatasi masalahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mas. Makanya aku salut juga di film diceritakan bahwa peran orang2 di sekeliling sangatlah penting untuk tahu lebih awal dan menyadari, sehingga bisa mencari bantuan profesional

      Delete
  20. Huhuhu aku pengen banget nonton film ini mbak, tapi maunya nonton sama suami jadi bisa diskusi bareng gtu. Manusia emang gtu, yang di rumah aja kadang pengen berkarir yang punya pekerjaan bagus pengen jd IRT. Yang pasti ini kyknya film bagus dan kyk real ya kalau baca review mbak dan temen2 lain yng juga mereviewnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah asik bgt kalo pasangan juga msu diajak nonton ya. Karena yang depresi tidak melulu pihak perempuan. Sebagai pasangan harus bisa saling mendukung

      Delete
  21. Sosok yang kita banget, ya. Sekilas hidup enak dan nyaman, tapi kadang ada lelah dan sensitifnya. Sehingga hanya trigger kecil bisa meluap deh semua kekesalan yang awalnya tidak dirasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itulah ternyara trigger itu karena ketidakpuasan dalam diri. Harus ditemukaj penyebabnya sehingga bisa dicari solusinya

      Delete
  22. Aku suka bgt sama film ini. Apalagi yg main gong yoo. Makin betah liatnya.

    Tema yg diangkat ini bagus bgt

    ReplyDelete
  23. Saya cukup baca postingan ini aja deh. Kurang suka nonton film korea euy. Hihihi. Untung asik ceritainnya, jadi baca gini doang udah cukup ngeh. Gimana film ini yaa mengangkat tema yang sebenarnya kita semua alami..kita banget deh pokoknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah aku tersanjung hehe yang penting pesannya bisa tersampaikan ya, karena ini sedang hypr banget isunya

      Delete
  24. Aku belom nonton. Tapi dari ceritanya aku bisa merasakan apa yang Kim Ji Young rasa. Karena aku pernah ada di posisi itu. Merasa tidak berdaya, bukan siapa-siapa, tidak dianggap ada...Padahal orang lain melihat enggak ada apa-apa. Keknya mesti nonton nih aku pasti bakal terisak juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iyalah klo suka film drama kudu nonton, pesannya ngena banget sih soalnya buat aku

      Delete

Post a Comment

what do you think? :)

Popular posts from this blog

Parasite (2019)

Pengalaman pertama jadi komuter di Ibukota. Siapa takut?!

Tentu saja aku bisa melakukan semuanya, tapi apakah aku mau?