Kawah Ijen Banyuwangi, kali pertama ku naik gunung



Melanjutkan petualangan di Pulau Merah sebelumnya, setelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan perjalanan ke Ijen. Di jalan kami sempatkan untuk makan malam dan mandi-mandi. Tanpa istirahat, lanjot terusss.  

Sedikit flash back ya. Sebagai anak pantai, naik gunung bukanlah salah satu cita-cita luhurku. Beberapa kali diajak teman ke Ranu Kumbolo di Semeru, atau ke Cikunir di Dataran Tinggi Dieng, masih belum menggerakkan hatiku.

Aku pernah naik ke Bromo. Tapi ini tidak aku perhitungkan naik gunung ya, karena ke sana itu cukup mudah. Naik mobil, oper naik kuda, kemudian naik tangga, voila, sampai deh di puncak ๐Ÿ˜‹

Naik gunung itu menurutku gak gampang. Butuh persiapan fisik dan mental. Dan aku sadar diri banget, secara fisik aku tidak prima. Takutnya malah merepotkan teman seperjalanan hehehe. Lagipula sejak dulu aku memang kurang suka kegiatan alam ke tempat yang dingin seperti kemping atau gunung. Aku lebih suka ke pantai, panas-panasan dan main air.

Kenapa akhirnya aku mau naik ke Ijen, karena menjawab tantangan temanku. Konon katanya, rute muncak Ijen sudah bersahabat (jalannya di aspal), tidak terlalu tinggi, “Sudah jadi tempat wisata, kok.” promosi temanku si anak gunung. “Gampang lah, kamu pasti bisa.”, pungkasnya meyakinkan.

“Lagian, kapan lagi nih, kita bisa ngumpul bareng, naik gunung bareng, sebelum masing-masing dari kita mencar karena menikah lalu melanjutkan hidup?”

Wah wah wah, kalimat terakhir nih yang nendang banget. Oke lah, siapa takut. Tantangan aku terima.

Ijen terlihat dari kota Banyuwangi.

Seperti yang sudah pernah kuceritakan di petualangan pertama di Teluk Hijau, rute kami ternyata sangatlah heroik. Hampir tidak masuk akal sih sebenarnya. Setelah pulang kerja, malamnya tidur di kereta, lanjut ke Teluk Hijau, bersambung ke Pulau Merah, dan tanpa istirahat langsung naik Ijen. Sombong banget ya ๐Ÿ˜ญ

Dan ternyata benar, kawan. Yang ada adalah, kami semua ketiduran di mobil saat perjalanan ke Ijen. Dengan kondisi masih setengah mengantuk, kami harus memulai perjalanan ke atas. Walhasil, ada yang kram perut, mual, pusing karena tensi turun. Jalan sedikit berhenti, jalan sedikit berhenti. Bekal pun terpaksa dibuka lebih cepat, utamanya madu dan coklat, untuk memberi tambahan stamina. Perjalanan jadi sangat lambat. Kami semua jelas-jelas kelelahan.

Belum ada 2/3 perjalanan, matahari mulai mengintip. Langit mulai terang, tapi kabut juga sangat pekat dan mendung. Banyak pejalan kaki yang turun sambil berkata, “Mendung, gak ketok” (baca : Mendung, sunrisenya tidak terlihat).

Dengan kondisi kelelahan, kami memutuskan berhenti sejenak. Nafas sudah tinggal setengah. Angin bertiup kencang, kedinginan karena kami diam saja tidak bergerak. Bahkan salah satu temanku sempat-sempatnya tertidur, bersender ke gunung. Di tengah cuaca dingin berangin, gelap gulita, kami bergeletakan di jalur pendakian. Bener-bener jatuh dalam kelelahan.

Langit mulai terang. Puncak sudah terlihat. Ternyata sudah begitu dekat. Huaaa sedih banget. Pengen banget gitu lari ke atas, biar selesai misi ini. Tapi apa daya, kami semua benar-benar kelelahan. Akhirnya, teman cowok satu-satunya, pemimpin rombongan ini, memutuskan agar kita turun saja. Percuma langit juga sudah terang, sunrise sudah lewat. Lebih baik sisa tenaga dipakai untuk turun ke bawah, kembali ke pos keberangkatan.

Ini persis rasanya seperti luka yang tidak berdarah. ~Pedih

Sampai di bawah, si mas driver sampai kaget, loh kok jam segini sudah turun. Wah langsung curcol deh hahaha. Dan tidak satu pun ada foto yang kami ambil di Ijen. Ya bagaimana ya, di atas masih gelap. Sampai bawah sudah pengen pingsan saja ๐Ÿ˜

Ini jadi pelajaran banget sih buatku. Namanya traveling ya, harus dinikmati, dan jangan remehkan waktu istirahat. Gak ada tuh yang namanya istirahat di mobil aja. Big No No. Apalagi kita sudah tidak muda lagi, ya sodara-sodara ๐Ÿ˜ž Jadi kali lain, harus lebih bijak dalam membuat itinerary.

Makanya perjalanan ini kami namakan Ijen part 1. Karena kami sudah berjanji, harus kembali lagi untuk menuntaskan misi yang tertunda, Ijen Part 2.

Comments

  1. Whuaaa ... Aku gemes kepengen cubit-cubit kamu, Mbaaak. Aku tuh suka banget sama gunung dengan alasan karena aku nggak pandai berenang. Jago meluncur pakai tali dari gunung ke bawah juga nggak sih, wkwkwk ...

    Tapi mendaki gunung memang butuh stamina lebih. Aku pun biasanya latihan dulu sebelum jalan. Ya jalan kaki, ya lari. Plus senam pakai dumbel gitu di rumah. Maklum, (lagi-lagi) soal umur, wkwkwk ...

    Semoga nanti punya kesempatan kesana lagi ya, biar nggak syedih lagi, wkwkwk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi kebalikan aku ya. Aku bisa brenang jdi di air tuh nyaman bgt mbak. Klo soal meluncur2 sih aku masih berani, asal ada temennya aja hehehe

      Iyah mbak, kisah suksesnya sudah tayang nih, baca lagi ya hehehe

      Delete
  2. Saya menunggu ceritanya, Mbak Kartika. Soalnya sudah mengikuti sejak dari Teluk Hijau, Pulau Merah, sampai ke Kawah Ijen.
    Sayang sih, karena sudah setengah perjalanan turun. harusnya lanjut saja. Walau tidak dapat sunrise, setidaknya suasana di atas tetap bagus. jadi sekalian istirahat dan menyimpan tenaga untuk turun. Apalagi tenaga saat naik dan saat turun itu berbeda. kalau turun lebih enjoy hehehe.
    Tapi tetap ditunggu Ijen Part 2, Mbak Kartika hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mestinya gitu ya, nyesel juga aye hehe yatapi klo gak.gitu gak balik ke Banyuwangi dong mas hehe kisah ijen part 2 sudah tayang mas, dibaca jugaa yaaa

      Delete
  3. Setiap perjalanan pasti memberikan suatu pengalaman. Tfs yaa Kak Kartika,, bener banget tuh, istirahat ya betul² harus istirahat dlm arti yg sebenarnya, gk cm dlm mobil. Demi kebaikan kita sendiri juga kann,, ditunggu cerita Kawah Ijen Part 2 nya yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak nyesel krn meremehkan istirahat. Akhirnya malah gak dapet semuanya huhu

      Btw ijen part 2 sudah tayang lho, baca lagi yaa ๐Ÿ˜˜

      Delete
  4. Banget.. nyesek pastinya ya mbak. Tapii tak apa next bisa dilanjutkan berburu sunrisenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe nyesek yang teramat sangat hikss

      Iya perjalanan berikutnya akhirnya terbayarkan, alhamdulillah

      Delete
  5. Aku jadi teringat sama ayahku kak tika..
    Beliau anak pantai, tapi pecinta gunung.
    waktu aku masih sekolahan, beliau suka masuk ke Hutan jalan kaki lalu naik ke gunung louser.

    Dan...Biasanya anak muda yang ngikutin beliau naik gunung akan "nangis" kecapekan . Gak kuat.
    Tapi beliau masih kuat..

    Yuk diulang lagi kak tika, biar ditulis part 2 nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih keren ya. Serius mbak aku tu kagum banget orang2 yg hobi naik gunung. Mnrt aku itu bnr2 menguji ketahanan diri lho bisa komitmen sampai atas. Dulu cuma lihat di film2 ya, setelah merasakan sendiri, paham bangett

      Delete
  6. duuuuh ijen... cita-citaaaaaa! dari zaman kuliah, banyak temen2 yg naik. tapi belum kesampaian sampai sekarang. trus ketambahan catatan "apalagi kita sudah tidak muda lagi" hahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi dicoba aja mbak. Banyak juga ketemu balita yang diajak ortunya. Bahkan wisatawan bule2 tuh malah banyak nenek kakek yang naik. Kita jadi malu sendiri klo ngeluh

      Delete
  7. Aih asyiknya yang udah pernah naik gunung. Saya dong..tinggal di Lombok, ada Gunung Rinjani, tapi gak pernah sampai ke sana. Paling ke Sembalun doang. Wkwkwkw. Soalnya takut merepotkan pendaki lain, ntar saya malah rempong di sana.

    Eh tapi kalau ke Tangkuban Parahu itu termasuk naik gunung, berarti saya udah pernah naik gunung nih. Hahahah. Mendakinya pakai mobil tapi~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ya itu mbak maksud tmnku. Klo gunungnya sdh jd tempat wisata, gampang atuh sampenya hehe

      Delete
  8. Banyuwangi emang selalu bikin luluh hati ya mbak, kawah ijen itu keren. Cuman sayang, aku belum pernah eksplor terlalu jauh, hahahaha kurang jauh mainnya soalnya. But, baca artikel ini aku suka banget.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayooo diagendakan ke timurnya Jawa. Banyak banget sebenarnya tujuan wisata di Banyuwangi. Aku aja belum khatam hihi

      Delete
  9. Aku pun yang bacanya ikutan kecewa ya, sudah capek2 mendaki ga kebagian sunrise, semoga di perjalanan part 2 dapat cerita yang lebih seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bisa merasakan yang kurasa mba huhu kisah berikutnya sudah tayang mbak, bisa dibaca lagi ๐Ÿคฉ

      Delete
  10. Toss... Aku juga anak pantai. Di sekolahku anak2 SMP sudah ada kegiatan naik gunung. Dan sampai sekarang, aku blm pnh naik gunung. April kemarin ke Semeru, gak jd karena ditutup. Akhirnya ke Bromo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bagus juga ya mas klo sudah ditanamkan kecintaan naik gunung sejak dini. Aku mungkin telat diperkenalkan jadi keburu gak suka hehehe

      Delete
  11. Maa syaa Allah kawah Ijen yang blue fire nya selalu bikin kamu jatuh cinta . Belum pernah kesana tapi banyak gambarnya yang bikin pengen kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, makanya gagal sekali kita langsung bercita2 naik lagi.

      Delete
  12. Wuaduh sayang sekali gak dapat fotonya. Betul mbaakk, istirahat itu penting, walaupun kita sedang traveling dan rasanya pengen mengabadikan semua momen tapi tetep sih mempertimbangkan risiko kesehatan itu jg penting. Btw itu artinya kapan2 kudu balik sana lagi mbak hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo pasti mbak, harus dituntaskan dendamnya๐Ÿคฃ

      Delete
  13. Duh pengen Banget ke Banyuwangi, salah satunya pengen ke kawah ijen meskipun aslinya gak suka muncak tapi kalo gunung ijen masih kuatlah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mas, mumpung masih mudah ๐Ÿค ๐Ÿค 

      Delete
  14. Berdasarkan pengalamanku Mbak, kalau digunung, dekat itu belum tentu dekat. Aku pernah sih, waktu naik merbabu. Aku selalu semangat menaklukkan satu demi satu puncak bukit karena rasanya sangat dekat. Ternyata... sangat menguras tenaga. Alhamdulillah berhasil.

    Jadi, jangan lama-lama menyesal. Mungkin keputusan saat itu sudah tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa bner mbaakk.. kliatan deket tapi aslinya masih jauh wkwkwk mknya akhirnya ya sdh lah turun saja, yang diincar sunrise juga sudah lewat ๐Ÿ˜ข

      Delete
  15. Ku tak pernah naik gunung.
    Ndak berminat dan ndak hobi.
    Ku sukanya liburan ke gunung, kemping cantik bersama keluarga.
    Hihi thh ya aku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku brosing thh loh mbak di mbah hahaha ternyata di kamus online artinya tah hapa hapa yak wkkwkwk

      Iyah gpp kan namanya juga selera. Bebas aja mo suka pantai atau gunung๐Ÿค 

      Delete
    2. Seru tuh jalan-jalan ke gunung, apalagi rame-rame. Tapi, ya memang harus prepare stamina biar kuat.

      Delete
    3. Iya mba, apalagi emang malas olahraga nih hehehe

      Delete
  16. Yaampun sayang banget kenapa ngga dilanjutin sekalian sampai atas sih, mumpung udah deket. Paling ngga bisa lihat belerang di pagi hari sambil makan mie di atas. Hmm.. nikmatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha kuatirnya betah trus gak mau pulang mbak ๐Ÿคฃ

      Delete

Post a Comment

what do you think? :)

Popular posts from this blog

Parasite (2019)

Pengalaman pertama jadi komuter di Ibukota. Siapa takut?!

Tentu saja aku bisa melakukan semuanya, tapi apakah aku mau?