Pontianak, Romantisme Pulang ke Kota Masa Kecil

Sabtu, 24 Februari 2018

Hari itu hari yang kami tunggu-tunggu. Lebih dari 2 dekade lalu, kami sekeluarga meninggalkan kota Pontianak dan pindah ke Pulau Jawa. Hari ini, setelah ribuan purnama, kami datang berkunjung kembali, untuk mengenang masa lalu, dan membuat kenangan yang baru.

Mengikuti Ayah yang dinas keliling Indonesia, di masa kecil aku sempat mencicipi tinggal di beberapa kota. Tentu kakakku yang lebih kaya pengalaman soal pindahan, karena kami berjarak 5 tahun. Sebelum aku lahir, kakak sudah mencicipi tinggal di beberapa kota.

Aku sendiri lahir di Samarinda, dimana aku sama sekali tidak punya kenangan di sana 😁 Cerita dari Ibu, ketika usiaku 3 bulan Ayah dipindahkan ke Pontianak. Nah di sini kami tinggal cukup lama, kurang lebih 7 tahun.

Sebagai anak kecil, acara pindahan tidak selalu menyenangkan. Aku kehilangan jejak teman TK dan beberapa teman SD. Kalau sekarang mendengar ada yang menghadiri reuni TK dan SD, ya ampun gemas banget sih, masih bersambung ya tali silaturahmi, keren deh!

Tapi di sisi lain, yang kurasakan manfaatnya sekarang, aku jadi lebih mengenal soal perbedaan. Aku terbiasa bertemu dengan orang yang berbeda suku denganku, dengan kebiasaan yang berbeda, penampilan fisik yang berbeda, cara bicara yang berbeda, dan masih banyak lagi perbedaan. Bahkan aku sendiri sempat mengalami perundungan lho, karena dianggap berbeda bagi mereka di tempat yang baru. Tapi tidak ada yang serius kok, karena aku sejak dulu bodo amat saja. 

Kembali ke hari yang ditunggu-tunggu, kami berangkat dengan penerbangan paling pagi. Aku, kakak, ibu, dan keponakanku akan memulai petualangan kami.

Pontianak, here we come!

 

Selamat datang di Pontianak!

Begitu sapa sang pilot, saat pesawat sudah akan mendarat.

Aku bergegas mengambil gambar untuk mengenang matahari dan langit pagi di Pontianak yang menyambut kami. Maafkan kenorakan ini ya, tapi waktu itu benar-benar senang sampe pen nangis, kalau kata anak jaman now 😝 


Matahari pagi Pontianak yang menyambut kedatangan kami



Hai, langit Pontianak!


Pemandangan sesaat sebelum mendarat. Hola, Pontianak!

Rasanya tidak percaya hari ini sungguh telah tiba. Meski  waktu itu aku masih kecil, tapi masih terekam jelas semuanya. Rumah masa kecilku, jalan menuju ke sekolah, mandi di sungai seberang, jajanan air tahu kesukaan, pisang goreng dan tahu isi tauge yang susah banget dicari di Surabaya, es kacang merah, bakso gepeng dengan mi kwetiaunya, es shanghai, choi pan beserta sausnya yang kecut pedes seger. Halah, kok kenangannya makanan semua ya?! Maklum, passion aku sejak kecil memang makan 😎

Jadi hari ini, bisa kembali mengarungi laut Jawa untuk terbang ke Pontianak, macam mimpi di siang bolong. Kami sangat sangat bersyukur, masih diberi rezeki waktu dan kesehatan dapat kembali ke tempat di mana masa kecil kami yang indah. 


Baca juga: Ini Tips Agar Saat Liburan Kamu Tetap Bugar dan Keren!


 

Bandar Udara Supadio

Alhamdulillah mendarat dengan selamat!

Dan membaca tulisan ini, sungguh, aku langsung melihat ke kakakku, dan kami tertawa bersama. Di saat yang sama, aku juga menangis terharu.

Ya ampun, sampai juga di kota ini lagi. Alhamdulillah...


Ini yang bikin yakin sudah sampai di Pontianak!


Aku tertawa karena aku ingat bahasa ini. Bahkan aku masih bisa membacanya dengan aksen Melayu Pontianak. Rasanya aku terlempar ke puluhan tahun yang lalu. Tidak pernah kusangka, ingatan ini masih ada jauh di bawah, tertumpuk oleh aneka kenangan baru. Dan ajaibnya, satu momen random seperti ini bisa membuka kotak pandora itu. Terharu! πŸ˜‚

Mengingat sekian lama waktu berselang, tentu bandara Supadio jauh sekali keadaannya dibanding ketika kami meninggalkan Pontianak dulu. 


Salah satu tujuan di itin kami, berimlek ria di Singkawang!






jepretan iseng ketika mencari toilet hehehe

Dulu kami bisa melihat pesawat yang akan berangkat dari balik pagar dekat tempat parkir. Sedekat itu sampai bisa dadah-dadah ketika Ayahku akan masuk ke pesawat. Ketika ayah datang, aku bahkan diperbolehkan menjemput di ruang boarding. Tentu waktu itu jadwal keberangkatan dan kedatangan tidak sepadat sekarang ya. Sayang sudah nggak punya foto bandara yang dulu.

Ah masa lalu. Aku siap membuka pelan-pelan kotak kenanganku di kota ini.

Ah itu dia, si pengemudi rental mobil sudah menunggu kami. Cerita selanjutnya ada di bertualang di hari pertama!

Comments

  1. Halo Kak Kartika πŸ™‹

    Perdana aku mampir kesini hhhe.. Membaca cerita kakak, tentu dulu ada rasa kurang nyaman. Karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Disatu sisi merasa kakak hebat juga karena bisa punya banyak teman dari beberapa daerah. Bahkan kakak jadi belajar untuk beradaptasi.

    Waah.. menyenangkan banget bisa kembali lagi ke Pontianak. Semoga mengingat hal-hal yg positif aja yaa kak πŸ˜‚

    Penasaran kelanjutan ceritanya gimanaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak Dev, terima kasih sudah berkunjung ya :)

      Yaaa sebenarnya sebagai anak kecil tidak terlalu berasa repot sih, karena tinggal ngekor orang tua aja hehehe. Pasti yang super repot orang dewasanya. Seingatku ya sedih saja karena sudah punya teman akrab eh pindah lagi. Beberapa kali kejadian begitu. Tapi sekali lagi senang juga karena banyak pengalaman baru ;)

      Delete
  2. Oh mbak Kartika lahirnya di Samarinda tapi setelah tiga bulan pindah ke Pontianak ya. Setelah 7 tahun di Pontianak terus ke daerah mana mbak? Langsung ke Jawa dan tidak pindah pindah lagi mbak?

    Alhamdulillah bisa kembali lagi ke Pontianak setelah lama menetap di Surabaya ya mbak. Pasti kangen banget ya mbak, ada sisi emosional.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Agus, makanya aku gak punya kenangan blas di Samarinda. Foto-foto pun cuma foto bayi pas kelahiran, itupun backgroundnya di rumah saja hahaha

      Pindah ke Pulau Jawa, pertama ke Jakarta dulu. Baru kami pindah ke Surabaya sampai Ayah pensiun.

      Betul mas, senang sekali bisa kembali mengenang rumah masa kecil. Senang, tak terkira!

      Delete
    2. Betul mbak, saya juga kadang senang kalo pulang kampung karena banyak kenangan disana. Kalo mau berangkat merantau lagi juga rasanya berat, tapi kalo di kampung saja juga ngga dapat duit.πŸ˜‚

      Delete
    3. Aku mengerti maksud Maa Agus. Yaaa, begitulah kehidupan orang dewasa yang menyebalkan. Gak kerja gak bisa foya-foya, hahaha

      Delete
  3. wahhh best tu tinggal di merata tempat. sama macam kak ipar saya. orang indonesia. kahwin orang malaysia. ayahnya kerja dengan Pertamina. tapi selarang ayahnya sudah pencen dan sekarang tinggal di Balikpapan. jadi, bila mbak nak datang ke Kuala Lumpur?😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sebetulnya kalau dingat-ingat lagi senang juga kok, karena kenal banyak teman baru dan punya banyak pengalaman :)

      Nah, kalau aku main ke KL aku pasti akan menghubungi Mbak Anies ya ;)

      Delete
  4. Saya baru ngeh kalau di Pontianak, bahasanya kek Malaysia nya Upin Ipin nih :D

    Btw asyik banget hidupnya pindah-pindah, tapi memang kalau anak kecil memang nggak nyaman ya, kalau saya malah senang sih, meski rempong tuh pastinya packing-packing :D

    Kalau saya, ingat Pontianak tuh jadi ingat pisang goreng, ada pisgor ponti enak di Surabaya, daerah Mulyosari sono.

    Kalau tahu isi toge, saya pernah nemu, ada yang jual tapi di Waru dekat Bungurasih sana, enak banget, saya jadi doyan padahal aslinya kurang suka beli gorengan kayak gitu :D

    Btw lagi, tulisan ini bikin saya kangen mudik, pengen juga ke tempat kelahiran saya, tapi jauh banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bahasanya mirip sikit. Sejujurnya kalau sekarang malah lebih bisa bahasanya upin ipin karena tiap hari liat di tipi :D

      iyaaaa Pontianak memang terkenal sekali ya kulinernya, sudah mulai banyak ditemukan sekarang. Cuma ya begitu, rasanya belum ada yang menyamai seperti yang diam2 masih kukenang, duile. Tahu isi tauge juga banyak sih di sini, tapi terkadang dicampur sama wortel jadi dapat manisnya. Aku juga nggak ngerti mbak, persisnya apa sih bumbunya, wong gak iso masak wkwkwk.

      Semoga Mbak Rey bisa segera mudik setelah corona berakhir ya. Sebuah harapan buat kita semua. Aminnnnn...

      Delete
  5. Waaah, tinggal di beragam kota sungguh bisa membuat kita banyak pengalaman menarik ya mbak. Kita punya mindset menerima keberagamaan.

    Kalo aku sih, berharap suatu saat bisa gitu. Aku sd sampe sma di kota yg sama. Kuliah juga, hanya beda kabupaten sih. Masih dekat kota jg. Jadi, yg aku temui adalah orang2 yg relatif punya kebiasaan/budaya yg sama. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Dodo. Ternyata merantau itu memang kita perlukan. Biar bisa mengenal diri sendiri juga kan ya?Mumpung masih muda dan masih semangat 🀠
      Jadi Mas Dodo masih kuliah ya? Ntar pas kerja coba deh explore lowongan di kota lain. Biar tambah seru petualangan masa mudanya hihihi

      Delete
    2. Baru saja lulus (Eh, bukan baru saja. Udah lama, wkkw)
      Aku wisuda februari 2020. Saat itu blm ada corona, jadi masih bisa wisuda.
      Setelah itu, belum ada wisuda lagi di kampusku. Jadi teman2ku setelah itu banyak yang tidak/belum wisuda. Yudisium pun melalui online saja. Tidak ada perayaan hahha

      Delete
    3. Wah, beruntung ya berarti sempat merasakan wisuda ((manual)) hahaha


      Kalau begitu, aku harus mengucapkan, Selamat Datang di Dunia Nyata! Masa-masa bulan madu sebagai mahasiswa sudah berakhir, waktunya menyambut masa depan yang lebih gemilang! Semangat ya!

      Delete
  6. Wah... saya baru tahu kalau bullying itu dalam bahasa Indonesia artinya perundungan :D

    Kalau dengar Pontianak, kalau dulu mengingatkan pada sungai Kapuas yang selalu disebut-sebut di RPUL, kalau sekarang mengingatkan pada Choi pan yang sungguh menggiurkan. Belum pernah nyobain, tapi lebih afdhol kalau dicobain di daerah asalnya langsung kayaknya.

    Eh, choi pan beneran native Pontianak, kan ya? ^_^"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun, sudah lama banget gak mendengar kata RPUL wkwkwk

      Betul kak, perundungan itu terjemahannya bullying. Aku mengusahakan pakai bahasa sih di blog ini, kalau sudah tahu padanan katanya. Tapi ya masih ada juga yang pakai istilah asing huhuhu

      Choi pan enaknyoooooo. Cobalah mbak. Aku pernah makan beberapa kali di Tangerang dan Jakarta dapat yang enak kok, terasa orisinilnya. Salah satu kekayaan kuliner yang patut diketahui :D

      Delete
  7. Wahh seru sekali bisa punya pengalaman tinggal di banyak tempat. Tapi kalau sebagai anak yang harua berpindah-pindah, pastinya kurang seru jadinya, karna banyak tukar-tukar teman sekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, itu salah satu gak enaknya. Baru saja punya sahabat eh sudah harus pindah. Kelas 2 SD aku pindah dari Pontianak ke Jakarta. Lalu kelas 4 SD aku pindah lagi ke Surabaya. Awal-awalnya sih masih surat-suratan, ecie jaman dulu ya hahaha, tapi gak bersambung surat menyuratnya. Dan akhirnya putus hubungan. Eh, tapi ada sih yang nyambung lewat Facebook. Terima kasih pada om Mark :D

      Delete
  8. Bahasanya di papan itu mengingatkan pada upin dan ipin yaa.. Mungkin karena kalimantan dekat dengan Malaysia ya.

    Kalau saya bukan keluarga yang berpindah, lahir, hidup dan besar hanya di sekitaran kota kecil saya ini :)

    Selamat bernostalgia di Pontianak. Ditunggu cerita selama di kota hantu ponti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, terima kasih sudah membaca kak. Salam kenal ya :)

      Iya, aku bikin beberapa artikel, karena kuatir kepanjangan, yang baca bosan ntar hihihi

      Delete
  9. Inget Kalbar tuh inget lempok sama duriannya aku tuh. Salah satu temen kuliahku pernah ngebawain lempok durian buatan neneknya, ini enak pake banget!! Mungkin karena home made ya, jadi duriannya itu full, soalnya pernah beli yang dijual di toko nggak semantep buatan neneknya temenku itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lempok durian enakkkkkk. Aku juga suka!
      Betul itu, kalau homemade pasti lebih enak karena gak pelit durennya. Pernah sih beli di Jakarta, masih beda seperti ingatanku. Tapi lumayan lah ya buat mengobati rasa rindu :)

      Delete
  10. aku tunggu cerota seru lainnya, oh ya pernah aku mau ke pontianak tahunya gak jadi gegara akua da acara lain yang lbh urgent, rasanay neysel banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh terima kasih Bu sudah mampir dan membaca 😘😘semoga nanti setelah corona bisa mengagendakan ke Pontianak ya Bu 😊 lalu saya tunggu kontennya di blog hihihi

      Delete

Post a Comment

Halo, terima kasih sudah membaca. Tinggalkan komentar ya, biar aku bisa balas BW 😊

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Jadi Komuter di Ibukota. Siapa Takut?!

Tentu Saja Aku Bisa Melakukan Semuanya, Tapi Apakah Aku Mau?

Kecombrang, Pemilik Aroma Segar Dan Rasa Khas Dari Hutan Indonesia